Menjaga Tingkat Inflasi Terkendali
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Menjaga Tingkat Inflasi Terkendali

Tinggal beberapa hari lagi, kita akan meninggalkan 2021 menuju 2022. Biasanya, kita selalu menyambut kedatangan pergantian tahun dengan sukacita. Namun, badai wabah Covid-19 yang masih terus berlangsung menyebabkan kita harus tetap waspada.

Apalagi, kini di depan mata kita telah datang varian baru dari Covid-19, yakni Omicron. Presiden Joko Widodo pun telah memberikan peringatan agar masyarakat mewaspadai penularan virus Covid-19 varian Omicron yang sudah terdeteksi di Indonesia.

Tentunya, kedatangan varian baru Omicron yang sudah terdeteksi di Indonesia juga membuyarkan sejumlah optimisme terhadap ekonomi di tahun depan. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun sudah memberikan sinyal bahwa ekonomi global pada 2022 tidak akan lebih baik daripada 2021.

Kondisi tersebut terjadi karena adanya ketidakpastian, terutama di negara maju dan adanya dampak inflasi yang cukup tinggi. Outlook 2022 untuk global ekonomi tidak sebaik pada 2021.

“Ini kita perlu waspadai. Berarti outlook pertumbuhan ekonomi 2022 secara global lebih rendah,” kata Sri Mulyani dalam satu acara, Rabu (15/12).

Ada empat penyebab dan isu alasan pertumbuhan ekonomi pada 2022 global bakal lebih berat, pertama, inflasi hingga masalah moneter di AS dan Eropa. Isu pertama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di 2022 menjadi lebih sulit adalah inflasi yang terjadi AS.

Sri Mulyani menyebut, dengan inflasi tinggi, AS akan melakukan tapering lebih dini dan lebih cepat dan berdampak ke seluruh dunia. “Demikian juga di Eropa di mana bank sentral akan dihadapkan pada opsi untuk melakukan penanganan inflasi melalui pengetatan moneter,” ucapnya.

Kedua, Tiongkok dengan sejumlah kebijakan dan masalahnya yang berpengaruh pada ekonomi dunia. Negeri Tirai Bambu ini masih punya masalah dengan perusahaan properti Tiongkok, Evergrande hingga kebijakan green economy mereka yang memberhentikan pembiayaan di bidang batu bara.

Ketiga, masalah suplai dunia. Ada masalah distrupsi suplai yang memberikan dampak pada inflasi dunia. Distrupsi ini bisa karena transportasi dan distribusi seperti masalah pengiriman dan kontainer.

“Maupun distruption karena labour supply tidak secepat meningkat dengan permintaan yang sekarang melonjak setelah terjadi normalisasi,” ujar Sri Mulyani.

Keempat, komitmen isu lingkungan juga bakal ganggu perekonomian. Isu yang bakal bikin ekonomi global 2022 tidak sebaik 2021 adalah komitmen negara-negara dunia untuk menurunkan temperatur dunia atau mencegah kenaikan suhu dunia. Hal ini menimbulkan dampak pada harga komoditas terutama energi.

Bagaimana dalam konteks faktor inflasi dan ekonomi ke depan Indonesia? Sejumlah kalangan, baik pengamat maupun pemerintah sudah seirama bahwa tingkat inflasi pada 2022 diperkirakan meningkat tinggi dibandingkan dengan capaian inflasi pada 2021, seiring pemulihan ekonomi domestik.

Beberapa dari mereka memberikan prediksi tingkat inflasi pada 2022 pada kisaran 3,5 persen secara tahunan. Ada beberapa faktor fundamental yang memicu tekanan inflasi pada 2022, misalnya, kenaikan harga energi yang akan berimplikasi pada peningkatan biaya produksi dan akan terepresentasikan dari harga jual produk atau jasa tersebut.

Memang, tanda-tanda kenaikan inflasi tahun depan tidak hanya terjadi pada perekonomian domestik, melainkan juga di negara-negara maju. Pemulihan yang lebih cepat di negara maju telah mendorong kenaikan inflasi, sementara negara berkembang masih berupaya memulihkan daya beli dan menangani pandemi.

Faktor pemicu inflasi berikutnya yang juga perlu diantisipasi, seperti risiko depresiasi nilai tukar di 2022 yang dapat mendorong kenaikan imported inflation. Faktor gangguan produksi di dalam negeri juga dapat menjadi tantangan yang memicu peningkatan inflasi. Kontributor utama inflasi di Indonesia adalah inflasi yang bersumber dari volatilitas harga bahan pangan.

Akibat curah hujan yang tinggi dan bencana banjir yang umumnya terjadi hampir setiap tahun di berbagai daerah di Indonesia dapat memicu peningkatan inflasi. Faktor pengerek inflasi tersebut pun masih akan diikuti oleh tantangan pemulihan daya beli masyarakat.

Dalam rangka itu, Bank Indonesia bersama pemerintah terus menjaga tingkat inflasi sepanjang 2021 yang diperkirakan berada pada kisaran 1,9 persen secara tahunan.

Artinya, tingkat inflasi pada 2021 itu masih jauh lebih rendah dari sasaran target 2–4 persen sehingga inflasi tahun depan bisa diukur dan disesuaikan dengan menggeliatnya pemulihan ekonomi nasional.

Harga Terkendali
Seperti disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono Bank Indonesia, bank sentral memperkirakan inflasi pada tahun ini akan berada di level 1,64 persen seiring dengan perkembangan harga yang tetap terkendali pada Desember.

Komoditas cabai rawit menjadi komponen utama penyumbang inflasi Desember. Hal tersebut terungkap dalam survei pemantauan harga yang digelar oleh bank sentral dan menunjukkan perkembangan harga pada Desember 2021 tetap terkendali.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi sebesar 0,34 persen secara bulanan. “Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi 2021 sebesar 1,64 persen,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Jumat (10/12).

Erwin mengungkapkan, penyumbang utama inflasi pada Desember 2021 sampai dengan minggu kedua yaitu komoditas cabai rawit sebesar 0,08 persen secara bulanan atau month-to-month (MtM), minyak goreng sebesar 0,04 persen MtM, cabai merah sebesar 0,03 persen MtM, dan daging ayam ras sebesar 0,02 persen MtM, serta sawit hijau, sabun detergen bubuk, semen, dan tarif angkutan udara masing-masing sebesar 0,01 persen MtM.

Erwin menambahkan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

BI juga akan terus memperkuat langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Ekonom Bank Mandiri Dian Ayu Yustina memperkirakan, tingkat inflasi pada tahun depan akan meningkat pada kisaran 3,1 persen. Perkiraan tersebut belum memperhitungkan inflasi dari komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price. “Karena kita berangkat dari perkiraan inflasi tahun ini 1,8 persen, jadi kenaikannya lumayan signifikan di 2022,” jelas Dian.

Dia menambahkan, meski mengalami peningkatan yang tinggi tahun depan, tingkat inflasi sebesar 3,1 persen masih terbilang rendah jika dilihat secara historis. Baik Bank Indonesia dan pemerintah tentu terus memantau inflasi demand driven itu menjadi fokus BI, melalui inflasi inti.

Bank sentral dan pemerintah tentu terus mengukur jumlah likuiditas agar jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga faktor inflasi di Indonesia masih terkendali. Semoga ekonomi tahun depan menjadi lebih baik lagi dibandingkan 2021. (indonesia.go.id)