OJK Akses Keuangan di Daerah Terpencil
KOMUNITAS PERISTIWA

OJK Akses Keuangan di Daerah Terpencil

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong lembaga jasa keuangan untuk meningkatkan akses keuangan ke daerah-daerah terpencil melalui pemanfaatan teknologi, seperti perluasan Laku Pandai (branchless banking) dalam menjadi agen penyaluran kredit mikro.

OJK juga akan terus mengembangkan dan mengoptimalkan peran Perusahaan Efek di daerah.

Selanjutnya akan merevitalisasi peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Satgas Waspada Investasi agar dapat mendukung pencapaian target indeks inklusi keuangan sebesar 75 persen di tahun ini, serta meningkatkan perlindungan kepada konsumen sektor jasa keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, dalam rilisnya kepada media, Selasa (15/1), mengatakan OJK juga mendorong inovasi industri jasa keuangan dalam menghadapi dan memanfaatkan revolusi industri 4.0.

Antara lain dengan menyiapkan ekosistem yang memadai dan mendorong lembaga jasa keuangan melakukan digitalisasi produk dan layanan keuangannya dengan manajemen risiko yang memadai.

OJK juga akan terus memfasilitasi dan memonitor perkembangan start up Fintech. Termasuk start up FinTech Peer-to-Peer Lending dan Equity Crow Funding melalui kerangka pengaturan yang kondusif dalam mendorong inovasi dan sekaligus memberi perlindungan yang memadai bagi konsumen.

“Program tersebut merupakan hasil Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2019 dihadiri oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Jakarta, akhir minggu kedua 2019,” ujarnya.

OJK terus meningkatkan literasi masyarakat terhadap fintech dan memperkuat penegakan hukum bagi start-up fintech ilegal yang merugikan masyakat luas.

OJK akan memanfaatkan teknologi dalam proses bisnis, baik dalam pengawasan perbankan berbasis teknologi, dan perizinan yang lebih cepat termasuk proses fit and proper test dari 30 hari kerja menjadi 14 hari kerja.

Struktur perbankan akan terus diperkuat dengan meningkatkan skala ekonomi dan daya saing serta efisiensi perbankan melalui intensitas penggunaan teknologi informasi.

OJK juga akan mendorong pemanfaatan platform sharing untuk meningkatkan penetrasi dan efisiensi industri perbankan syariah.

Dikatakan Wimboh, transformasi industri keuangan non-bank (IKNB) akan terus dilanjutkan pada 2019 dengan peningkatan tata kelola (governance), aspek prudensial, maupun pelaksanaan market conduct di IKNB serta penyempurnaan pengawasan berbasis risiko, kebijakan terkait asset registry dan rencana bisnis lembaga keuangan non bank.

Tentunya keseluruhan kebijakan dan inisiatif tersebut membutuhkan kolaborasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan.

Untuk itu, OJK meminta seluruh pelaku sektor jasa keuangan mewujudkan kolaborasi yang efektif dalam membangun optimisme bersama guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (jnr)