Dugaan munculnya klaster hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memunculkan perhatian terhadap ancaman penyakit zoonosis di tengah tingginya mobilitas global. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama perjalanan lintas negara, sehingga memicu kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit yang berasal dari hewan.
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa kemunculan kasus hantavirus di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar kemungkinan besar berkaitan dengan paparan yang terjadi sebelum perjalanan berlangsung.
Menurut Laura, hantavirus memiliki masa inkubasi yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Kondisi tersebut membuat gejala baru dapat muncul ketika seseorang telah berpindah lokasi atau berada di wilayah berbeda dari tempat awal terjadinya paparan.
“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu, sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mobilitas internasional melalui perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus. Namun, lokasi ditemukannya pasien tidak selalu menunjukkan tempat awal penularan terjadi.
Dalam penjelasannya, Laura menyebut hantavirus termasuk penyakit zoonosis yang ditularkan melalui paparan partikel dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi tanpa kontak langsung, melainkan melalui inhalasi partikel yang telah terkontaminasi virus.
Kondisi lingkungan dengan populasi tikus atau hewan pengerat yang tinggi dinilai meningkatkan risiko penyebaran infeksi. Karena itu, pengawasan sanitasi dan kebersihan lingkungan menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit tersebut.
Laura menambahkan bahwa sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, terdapat beberapa strain tertentu yang memiliki kemampuan transmisi terbatas antarindividu, salah satunya Andes virus.
Karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik dinilai penting untuk memastikan pola penyebaran virus dalam suatu kasus.
“Analisis epidemiologi dan surveilans genomik diperlukan untuk mengetahui pola transmisi yang terjadi serta memastikan sumber paparan,” katanya.
Selain faktor mobilitas manusia, perubahan lingkungan juga disebut berkontribusi terhadap peningkatan risiko zoonosis global. Laura menjelaskan bahwa perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan dapat memengaruhi distribusi reservoir penyakit di berbagai wilayah.
Aktivitas manusia di kawasan baru, termasuk meningkatnya tren perjalanan wisata berbasis alam dan ekowisata, juga memperbesar peluang interaksi dengan sumber penyakit yang sebelumnya terbatas pada habitat tertentu.
“Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” jelasnya.
Dari sisi klinis, hantavirus disebut memiliki gejala awal yang cenderung tidak spesifik. Pasien umumnya mengalami demam, kelelahan, nyeri otot, hingga gangguan gastrointestinal pada tahap awal infeksi.
Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat berupa pneumonia dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pada fase lanjut, pasien bahkan dapat mengalami syok dan membutuhkan perawatan intensif.
Laura menjelaskan bahwa salah satu bentuk infeksi berat hantavirus adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.
“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30 hingga 50 persen, terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujarnya.
Menurut Laura, deteksi dini menjadi langkah penting dalam mencegah eskalasi kasus. Ia menilai penguatan sistem surveilans kesehatan, termasuk surveilans genomik, perlu terus dilakukan untuk memantau pola penyebaran virus secara lebih akurat.
Selain itu, ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health yang mengintegrasikan aspek kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam pengendalian penyakit zoonosis.
Sebagai Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis UNAIR, Laura menekankan bahwa penguatan sanitasi lingkungan, pemantauan gejala secara cepat, dan komunikasi risiko yang efektif menjadi faktor penting dalam pencegahan penyebaran penyakit.
Ia menilai kesiapsiagaan sistem kesehatan perlu terus diperkuat seiring meningkatnya mobilitas manusia antarnegara.
“Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” pungkasnya. (ita)

