Upaya pengembangan energi terbarukan terus menjadi perhatian dunia di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tantangan perubahan iklim global. Di Indonesia, inovasi di bidang teknologi energi turut dikembangkan oleh akademisi Universitas Airlangga (UNAIR) melalui riset material nano yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi panel surya.
Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR, Tahta Amrillah SSi MSc PhD, mengembangkan penelitian mengenai nanomaterial yang dirancang untuk mengoptimalkan proses konversi cahaya matahari menjadi energi listrik. Inovasi tersebut dinilai berpotensi mendukung pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien dan aplikatif di masa depan.
Konsistensi penelitian yang dilakukan Tahta turut membawanya masuk dalam nominasi ajang ilmiah internasional bergengsi, yakni 75th Lindau Nobel Laureate Meetings 2026 yang akan digelar di Jerman. Forum tersebut dikenal sebagai salah satu pertemuan ilmiah dunia yang mempertemukan peneliti muda dengan para peraih Nobel dari berbagai bidang keilmuan.
Dalam risetnya, Tahta memfokuskan pengembangan material skala nano untuk mengatasi keterbatasan panel surya konvensional yang selama ini masih menghadapi tantangan efisiensi penyerapan energi matahari. Melalui pendekatan rekayasa material, teknologi tersebut dikembangkan agar mampu meningkatkan performa sel surya secara signifikan.
Menurutnya, rekayasa nanomaterial menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung percepatan pemanfaatan energi terbarukan secara lebih luas di masyarakat.
“Pengembangan material baru sangat penting agar teknologi energi terbarukan menjadi semakin efisien, aplikatif, dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat,” ujar Tahta.
Ia menjelaskan bahwa salah satu keunggulan penelitian tersebut terletak pada pengembangan sel surya dengan tingkat transparansi tinggi. Teknologi itu memungkinkan panel surya diintegrasikan pada kaca bangunan melalui konsep Building Integrated Photovoltaic (BIPV).
Konsep tersebut dinilai dapat menjadi solusi dalam pengembangan bangunan ramah lingkungan karena permukaan kaca tidak hanya berfungsi sebagai elemen konstruksi, tetapi juga mampu menghasilkan energi listrik dari paparan sinar matahari.
Selain fokus pada inovasi teknologi, Tahta juga menyoroti pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal dalam mendukung industri energi terbarukan nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena kaya akan bahan baku mineral yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri sel surya.
Ia menyebut sejumlah material seperti tembaga, zinc, dan sulfur memiliki nilai strategis untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri. Selama ini, sebagian besar material tersebut masih diekspor dalam bentuk mentah tanpa proses hilirisasi yang optimal.
Padahal, Indonesia memiliki keunggulan geografis sebagai negara tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting dalam pengembangan teknologi energi surya nasional.
“Indonesia memiliki sumber daya material dan potensi energi matahari yang sangat besar. Karena itu, pengembangan industri energi terbarukan berbasis material lokal perlu terus diperkuat,” katanya.
Tahta berharap peluang nominasi dalam forum ilmiah internasional tersebut dapat membuka ruang kolaborasi riset dan diskusi global mengenai pengembangan energi terbarukan, khususnya dalam bidang rekayasa material.
Ia juga menilai bahwa penguatan hilirisasi material domestik menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk teknologi bernilai tambah tinggi.
Di sisi lain, Tahta mendorong generasi muda dan peneliti di Indonesia untuk terus aktif melakukan inovasi riset yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, penelitian tidak semata-mata menjadi bagian dari tuntutan akademik, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat daya saing bangsa di tingkat global.
“Riset harus dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kemajuan bangsa, bukan sekadar kewajiban administratif,” tuturnya.
Melalui pengembangan teknologi nanomaterial tersebut, Tahta berharap implementasi energi terbarukan di Indonesia dapat semakin berkembang, baik dalam sektor industri maupun kebutuhan masyarakat sehari-hari. Selain itu, capaian tersebut juga diharapkan mampu memperkuat posisi UNAIR sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif mengembangkan riset inovatif bertaraf internasional.
Pengembangan teknologi energi surya berbasis nanomaterial dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung transisi energi nasional menuju penggunaan sumber energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan di masa mendatang. (ita)

