Pakar UGM Bicara Spirit Doll
GAYA HIDUP KOMUNITAS PERISTIWA

Pakar UGM Bicara Spirit Doll

Spirit doll atau boneka arwah masih menjadi polemik di tengah masyarakat. Keberadaan boneka yang menjadi tren di kalangan selebritas ini mengundang beragam pendapat dari berbagai sudut pandang.

Tidak hanya Ivan Gunawan yang mengadopsi dan merawat Spirit Doll seperti anak sendiri, beberapa artis lainn pun melakukan hal sama. Lantas bagaimana soal Spirit Doll dari sudut pandang kebudayaan?

I Made Christian Wiranata Rediana, peneliti Pusat Studi Kebudayaan UGM, mengatakan Spirit Doll menjadi fenomenal karena hal tersebut bukanlah menjadi suatu hal yang mainstream di masyarakat.

Ia sesungguhnya hanya suatu benda yang dikenal dalam lingkup tertentu dan kemudian tersebar luas keberadaannya.

Spirit Doll merupakan suatu diksi yang diutarakan oleh masyarakat luas mengenai suatu benda yang seakan-akan memiliki jiwa. Kata ‘spirit’ dalam benak masyarakat rerata mengasosiasikan sebagai suatu kekuatan supranatural yang bersifat negatif.
Padahal, dalam kenyataan ‘spirit’ tidak melulu bersifat negatif, melainkan juga berbentuk energi positif yang menyebabkan pemiliknya menjadi terhibur, merasa bahagia, dan merasakan energi positif lainnya.

“Menurut hemat saya, Spirit Doll jauh dari kata sekadar permainan, melainkan suatu karya seni yang dapat memancarkan sesuatu, dapat membuat setiap orang tersugesti untuk memilikinya, dan rasa kepercayaan terhadap karya seni tersebut berimbas kepada perlakuannya,” ungkap Rediana, di Pusat Studi Kebudayaan UGM, Selasa (11/01).

Soal tindakan pemilik yang memperlakukan seperti manusia sebagai sikap yang menyimpang atau tidak, menurut Rediana, bisa dikatakan sangat relatif tergantung kepada masyarakat bagaimana memandang hal tersebut secara empiris.

Sejauh spirit doll mengantarkan kepada kebiasaan yang positif, menurutnya, tidak perlu diragukan keberadaannya.

“Penyimpangan justru tampak bila spirit doll disalahgunakan menjadi suatu perlakuan yang mencurigakan, misal menjadikan spirit doll sebagai bahan guna-guna, menakut-nakuti seseorang, dan menjadi media pesugihan,” terangnya.

Rediana berharap masyarakat seyogianya memahami bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan untuk memiliki suatu media penghiburan apapun wujudnya. Spirit sebaiknya perlu dipahami sebagai suatu pancaran yang tidak selalu negatif.

Karenanya memiliki spirit doll setidaknya dapat dipadankan seperti memiliki suatu barang ‘aji-aji’, sehingga apapun wujudnya dan jika tidak disalahgunakan untuk mencelakakan seseorang atau bahkan dirinya sendiri ia menjadi hal yang lumrah.

“Tetapi jika spirit doll menjadi suatu kemelekatan bagi diri pribadinya justru akan menyebabkan jiwa menjadi tidak sehat,” jelasnya.

Ia menandaskan Spirit Doll memang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Oleh karena itu, ada baiknya perlu dilakukan dialog antara sudut pandang agama dan keberadaan budaya masyarakat.

Sebagai pengamat budaya, ia menilai memiliki spirit doll merupakan wujud dari aktivitas kebudayaan secara pribadi ataupun masyarakat secara luas.

Sementara agama memberi batasan yang sifatnya normatif, batasan tersebut sangat bermanfaat bila sekiranya keberadaan spirit doll mengganggu ketenteraman pemiliknya atau masyarakat sekitarnya.

Radian berharap secara umum apapun bentuk karya seninya hal tersebut bisa menjadi suatu karya yang menghantar pada perbuatan yang positif dan bermanfaat. Meskipun kemudian muncul polemik dikarenakan persepsi masyarakat yang majemuk dalam menghadapi hal tersebut.

Karena itu, bagi pemilik spirit doll perlu memahami kebiasaan masyarakat yang belum siap dengan kebiasaan tersebut, maka kebijakan pribadi dalam hal privasi perlu untuk dipertimbangkan. Dengan kata lain, kebiasaan yang anti mainstream perlu diolah lagi bila kemudian hari ingin diperkenalkan.

Selain itu, diperlukan pendekatan secara perlahan agar masyarakat bisa mengerti dan memaklumi atas aktivitas tersebut. Perlu juga menumbuhkembangkan sikap agar mampu memahami bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan dalam memiliki suatu hal.

“Penting dan perlu adalah sikap untuk bisa memahami keberadaan beserta dampaknya, baru kemudian jika ada yang kurang pas justifikasi. Begitu pun soal spirit doll ini, upayakan justifikasi tidak mengintimidasi, tetapi seyogianya secara bersama didialogkan, supaya sisi pemilik dan publik saling memahami,” imbuhnya. (ist)