Hari Persahabatan Nasional yang diperingati setiap 8 Juni menjadi momentum untuk meninjau kembali makna hubungan sosial di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan media sosial dinilai telah mengubah cara masyarakat membangun dan mempertahankan hubungan pertemanan.
Di satu sisi, teknologi memungkinkan seseorang terhubung dengan lebih banyak orang tanpa batas ruang dan waktu. Namun di sisi lain, hubungan yang terjalin melalui platform digital tidak selalu diikuti dengan kedalaman interaksi yang memadai. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas relasi sosial yang terbentuk di era media sosial.
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Syamsiyah S.Sosio., M.Sc., menilai bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan terhadap pola pertemanan masyarakat. Menurutnya, hubungan yang sebelumnya dibangun melalui interaksi langsung dan komunikasi yang intens kini berpotensi mengalami pergeseran menjadi hubungan yang lebih dangkal.
“Jika sebelumnya pertemanan dilakukan secara intens dengan komunikasi dekat, intim, dan memiliki kedekatan emosional timbal balik, kini mungkin sudah tereduksi oleh media sosial. Aktivitas pertemanan sering kali hanya sebatas melihat story, memberikan like, atau sekadar hadir secara visual di jagat maya,” ujarnya.
Pertemanan Digital dan Fenomena Kesepian
Nur Syamsiyah menjelaskan bahwa banyak individu saat ini memiliki jaringan sosial yang sangat luas di dunia digital. Akan tetapi, luasnya jaringan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang dimiliki dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, fenomena tersebut menciptakan situasi paradoksal ketika seseorang tampak aktif dan memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tetap merasakan kesepian dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan yang terbentuk sering kali tidak berkembang menjadi komunikasi yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
“Banyak orang memiliki ratusan teman di media sosial, namun merasa kesepian di dunia nyata. Interaksi digital itu akhirnya banyak dimaknai hanya sekadar yang penting sudah melihat story, tetapi tidak betul-betul dibangun secara intensional dan mendalam. Artinya jaringan pertemanannya lebih luas cakupannya, tetapi dangkal,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara kuantitas dan kualitas hubungan sosial. Semakin banyak koneksi digital yang dimiliki seseorang tidak otomatis membuat kebutuhan emosional dan sosialnya terpenuhi.
Pengaruh Algoritma terhadap Interaksi Sosial
Selain perubahan pola komunikasi, Nur Syamsiyah juga menyoroti peran algoritma media sosial yang dinilai turut memengaruhi cara individu berinteraksi. Berbagai fitur otomatis yang tersedia pada platform digital saat ini memungkinkan pengguna tetap terhubung tanpa harus melakukan komunikasi secara langsung.
Notifikasi ucapan selamat ulang tahun, peringatan pencapaian teman, hingga rekomendasi interaksi tertentu menjadi bagian dari mekanisme yang mendorong aktivitas pengguna di media sosial. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mengurangi munculnya interaksi yang benar-benar lahir dari inisiatif pribadi.
“Kini kita sering mendapat notifikasi otomatis dari media sosial untuk mengucapkan selamat atas pencapaian teman. Artinya, interaksi organik semakin langka dan minim terjadi, karena ada kepentingan algoritma yang bekerja di balik layar untuk mendapatkan data dari aktivitas sosial kita,” tegasnya.
Ia menilai bahwa keberadaan algoritma memang mempermudah komunikasi, namun pengguna tetap perlu menjaga kualitas hubungan agar tidak hanya bergantung pada aktivitas digital yang bersifat otomatis.
Ghosting Menjadi Fenomena yang Kian Umum
Dalam perkembangan hubungan sosial saat ini, fenomena ghosting atau memutus komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan juga menjadi perhatian. Nur Syamsiyah menilai fenomena tersebut tidak terlepas dari perubahan fase kehidupan yang dialami seseorang.
Perbedaan lingkungan, nilai, prioritas hidup, hingga pengalaman sosial dapat membuat individu tidak lagi memiliki kedekatan yang sama dengan teman-teman di masa lalu. Situasi tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang wajar.
“Saat tidak lagi sefrekuensi dengan teman masa lalu, kecanggungan sosial tidak terhindarkan. Ini fase kehidupan yang normal karena manusia alamiahnya mencari lingkaran dengan nilai dan simbol yang sama,” paparnya.
Meski demikian, ia melihat fenomena ghosting kini semakin sering terjadi, khususnya di kalangan generasi muda. Sebagian orang memilih mengakhiri hubungan sosial secara sepihak tanpa memberikan penjelasan yang jelas kepada pihak lain.
Menurutnya, alasan seperti kelelahan sosial atau keinginan menjauh dari hubungan yang dianggap tidak sehat kerap digunakan untuk membenarkan keputusan tersebut. Padahal, komunikasi yang baik tetap diperlukan agar hubungan dapat diakhiri atau dijaga dengan cara yang lebih sehat.
“Mereka melakukan ghosting tanpa klarifikasi, padahal persahabatan yang sehat sangat krusial sebagai modal sosial dan penjaga kesehatan mental,” katanya.
Komunikasi Menjadi Fondasi Persahabatan
Dalam memperingati Hari Persahabatan Nasional, Nur Syamsiyah menekankan pentingnya membangun komunikasi yang jelas dan terbuka. Ia menilai kualitas komunikasi jauh lebih penting dibandingkan frekuensi komunikasi yang dilakukan setiap hari.
Menurutnya, setiap individu memiliki pola pertemanan yang berbeda. Ada yang terbiasa berinteraksi secara intens, ada pula yang tetap dekat meski jarang berkomunikasi. Namun, hubungan akan tetap berjalan dengan baik apabila masing-masing pihak memahami harapan dan batasan yang dimiliki.
“Investasi terbesar bagi anak muda agar tidak menyesal di hari tua adalah komunikasi yang jelas. Pastikan sahabat kita menangkap ekspektasi dan pesan yang ingin kita sampaikan. Sampaikan kepada mereka bahwa meskipun tidak berkabar setiap hari, kita akan selalu siap hadir saat dibutuhkan, sehingga hubungan yang kita miliki berfungsi secara sosial,” pungkasnya.
Peringatan Hari Persahabatan Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan sosial, tetapi kualitas hubungan tetap ditentukan oleh komunikasi yang tulus, keterbukaan, dan kepedulian antarsesama. Di tengah derasnya arus digitalisasi, menjaga makna persahabatan yang autentik dinilai tetap menjadi tantangan sekaligus kebutuhan bagi masyarakat modern. (ita)

