PBB: 85% Keluarga Terima Bantuan Covid-19
KOMUNITAS PERISTIWA

PBB: 85% Keluarga Terima Bantuan Covid-19

Lebih dari 85 persen rumah tangga yang disurvei di Indonesia telah menerima sedikitnya satu bentuk bantuan sosial pemerintah dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), menurut survei nasional yang diterbitkan hari ini.

Survei oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF), United Nations Development Program (UNDP), Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (PROSPERA), dan SMERU Research Institute melibatkan wawancara tatap muka dengan lebih dari 12.000 rumah tangga di 34 provinsi, menjadikannya survei terbesar tentang dampak COVID-19.

Hasil survei menunjukkan setengah (50,8%) dari rumah tangga di Indonesia telah menerima bantuan tunai. Sebagian besar penerima bantuan adalah rumah tangga termiskin: 90% menerima setidaknya satu bentuk bantuan (tunai dan/atau non-tunai) dan 62% menerima bantuan tunai.

Hampir tiga perempat rumah tangga (74,3 persen) berpenghasilan lebih rendah daripada pada Januari 2020. Keluarga dengan anak-anak (75,3 persen) dan mereka yang tinggal di daerah perkotaan (78,3 persen) mengalami kehilangan pendapatan yang lebih besar.

Selain itu, 12,6 persen keluarga yang disurvei mengalami kesulitan keuangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka. Masyarakat miskin dan kelompok berpenghasilan menengah yang menjadi rentan karena keterpurukan ekonomi membutuhkan bantuan sosial lebih lanjut.

Laporan yang berjudul “Dampak Sosial dan Ekonomi Covid-19 pada Rumah Tangga dan Rekomendasi Kebijakan Strategis untuk Indonesia”, menangkap hasil survei tersebut. Laporan ini meninjau dampak pandemi pada pekerjaan, usaha kecil, ketahanan pangan, akses ke perawatan kesehatan, pendidikan dan jaring pengaman sosial.

Laporan tersebut juga memberikan perhatian khusus pada rumah tangga dengan anak, perempuan, dan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. “Situasi luar biasa ini membutuhkan kebijakan luar biasa,” kata Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan RI dalam sambutan pembukaannya.

“Ke depan, Ke depan, kami akan berfokus kepada kebijakan yang bersifat game changer untuk melawan dampak ekonomi dari pandemic yaitu 1) intervensi kesehatan yang efektif untuk vaksinasi 185 juta orang 2) pemulihan ekonomi melalui program perlindungan sosial dan keberlanjutan usaha, 3) reformasi struktural untuk bertahan dan keluar dari pandemi ini,” jelasnya dalam sambutannya.

“Pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan keamanan manusia. Pemerintah dan mitranya harus menanganinya dan memastikan tidak seorangpun tertinggal. Dengan pendekatan human security, kita harus melindungi individu, terutama yang berada dalam kelompok rentan, dan memberdayakan mereka.”

Di Indonesia, Jepang telah memberikan bantuan teknis kepada sektor kesehatan, dan menyediakan perlengkapan medis seperti ventilator, APD dan alat tes PCR, baik secara bilateral maupun melalui organisasi internasional, termasuk UNDP dan UNICEF. Jepang juga akan berkontribusi kepada UNDP untuk digitalisasi sistem kesehatan di Indonesia, termasuk sistem informasi data vaksinasi COVID-19,” kata Kanasugi Kenji, Duta Besar Jepang untuk Indonesia.

Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) telah menyesuaikan kembali kemitraan pembangunannya untuk bekerja dengan Indonesia guna menanggapi tantangan yang ditimbulkan pandemi.

Program tata kelola ekonomi PROSPERA kami bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mendorong lembaga dan kebijakan ekonomi yang lebih efektif yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan inklusif yang peka terhadap kebutuhan perempuan dan kelompok rentan.

“Kami senang laporan ini dapat memberi masukan kepada pemerintah tentang dampak COVID-19 dan mendukung kebijakan untuk melindungi rumah tangga di seluruh Indonesia,” kata Alison Duncan, Minister-Counselor (Economic, Infrastructure & Investment) untuk Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Studi ini menyoroti dampak ekonomi pada yang termiskin dan paling rentan, termasuk anak-anak, yang dalam banyak kasus paling terdampak pandemi.

“Pada 2021 dan seterusnya, kita harus terus menggunakan strategi yang sama untuk cakupan perlindungan sosial dan bantuan tunai bagi mereka yang paling membutuhkan,” kata Representative UNICEF Debora Comini. “Gabungan semua langkah kebijakan pada saat yang genting ini dapat membantu mencegah lonjakan kemiskinan anak yang ekstrem.”

Laporan tersebut menegaskan sekali lagi bahwa COVID-19 memiliki dampak terbesar pada kelompok paling rentan di Indonesia. Pandemi ini berisiko menyebabkan kemunduran terhadap kemajuan yang telah dicapai Indonesia menuju pengentasan kemiskinan dan pembangunan manusia. (ita)