Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KESEHATAN»Peran Susu pada Sistem Imun Tubuh

Peran Susu pada Sistem Imun Tubuh

KESEHATAN redaksi08/12/2017 - 13:00 WIB

Tidak ada susu bayi buatan (formula) yang dapat menyamai Air Susu Ibu (ASI) dalam hal nilai gizi, enzim, faktor pertumbuhan, hormon, sifat imunologis dan anti inflamasi atau outcome dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi.

ASI juga memberikan kecerdasan yang lebih dan menurunnya prevalensi obesitas selama masa bayi dan remaja.

Data UNICEF’s State of The World’s Children Report 2011 menyebut dari 136,7 juta bayi yang lahir di seluruh dunia setiap tahun, hanya 32,6 persen yang mendapatkan ASI eksklusif higga 6 bulan pertama.

Sementara yang lainnya tidak mendapatkan ASI dengan alasan kondisi kesehatan sang ibu atau produksi ASI yang tidak mencukupi.

“Karena itu, susu formula diperlukan sebagai pengganti ASI yang efektif. Meski produksi susu formula yang identik dengan ASI tidak mungkin dilakukan namun usaha meniru profil zat gizi ASI telah dilakukan demi pertumbuhan dan perkembangan normal bayi,” kata Prof Dr Ir Nurliyani MS di Balai Senat UGM, pekan lalu.

Menurut Nurliyani, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan, berbagai macam produk susu fungsional termasuk produk susu fermentasi dan produk susu yang diperkaya dengan zat-zat gizi akhir-akhir ini berkembang sangat dinamis.

Produk susu fermentasi ini merupakan kendaraan untuk mengantarkan probiotik paling efisien. “Susu fermentasi memungkinkan untuk retensi dan optimalisasi daya hidup dan produktivitas mikrobia,” katanya.

Menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Fakultas Peternakan UGM berjudul “Peran Susu dan Produk Susu Pada Sistem Imun Tubuh”, Nurliyani menuturkan mikroorganisme probiotik dapat memengaruhi komunitas mikrobia usus, dan telah diakui sebagai komponen terapi dalam pengobatan dysbiosis usus.

Dimana molekul-molekul neuroaktif yang diproduksi oleh mikrobiota usus ternyata juga dapat memodulasi sinyal saraf yang memengaruhi parameter neurologis dan psikologis seperti tidur, nafsu makan, mood dan kognisi.

“Metabolit yang diproduksi oleh bakteri usus juga memiliki sifat imunomodulator dan dapat berinteraksi dengan sel-sel saraf dengan menstimulasi sistem saraf simpatik dan otonom,” ucapnya.

Berbagai zat gizi dan komponen bioaktif susu asal ternak, kata Nurliyani, memiliki peran penting untuk optimalisasi organ-organ limfoid agar beraktivitas secara optimal. Dengan demikian, sel-sel imun menjadi optimal dalam memberikan respons imun humoral maupun seluler.

Karena itu, perbedaan dan keunikan komponen susu termasuk komponen bioaktif dari berbagai spesies ternak dapat menimbulkan respons imun yang berbeda, baik respons imun nonspesifik maupun spesifik.

Dalam pandangan Nurliyani perbedaan prosesing susu dapat memengaruhi respons imun yang ditimbulkannya. Di satu sisi prosesing dapat menyebabkan modulasi sistim imun atau menurunkan sifat alergenik, dan di sisi lain dapat menimbulkan sifat antigenik baru.

“Oleh karena itu, dalam prosesing susu harus disesuaikan dengan tujuan fungsional produk yang diinginkan,” terangnya. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Protein Hewani Jadi Fokus Edukasi FKH dan FKM UNAIR untuk Cegah Stunting

09/07/2026 - 16:21 WIB

Cegah Stunting, FKH dan FK UNAIR Edukasi Ibu Hamil di Bojonegoro tentang Pentingnya Nutrisi Optimal

09/07/2026 - 16:10 WIB

Stunting Bojonegoro Jadi Fokus Kolaborasi FKH UNAIR dan Pemkab melalui Edukasi Protein Hewani

09/07/2026 - 16:03 WIB

Skrining Status Gizi Digelar FKH dan FK UNAIR di Delapan SD Bojonegoro

07/07/2026 - 19:47 WIB

FKH UNAIR Dorong Deteksi Dini Stunting pada Usia Pra-Pubertas di Bojonegoro

07/07/2026 - 19:39 WIB

FKH UNAIR Pimpin Pengabdian Masyarakat Cegah Stunting di Delapan SD Bojonegoro

07/07/2026 - 19:32 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.