Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Perayaan Imlek Tradisi Merekatkan Budaya

Perayaan Imlek Tradisi Merekatkan Budaya

PERISTIWA redaksi29/01/2025 - 11:00 WIB

Sebagai tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun, imlek bukan hanya sebagai momen penting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek juga merupakan simbol lintas budaya di Indonesia.

Shinta Devi Ika Santhi Rahayu SS MA, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkap berbagai dimensi sejarah dan pernak-pernik tradisi Imlek.

Shinta mengatakan, bahwa perayaan Imlek berasal dari tradisi menyambut musim semi di Tiongkok. Imlek juga sudah jauh ada sebelum hadirnya agama tertentu. “Tradisi ini muncul karena masyarakat Tiongkok mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Kemudian mereka menyambut musim semi sebagai awal kehidupan baru,” jelasnya.

Shinta menjelaskan mengenai perbedaan perayaan Imlek ketika masa Orde Baru dan era Reformasi. Di masa Orde Baru, tradisi Imlek tidak boleh dirayakan di ruang publik. Pelaksanaannya juga secara terbatas. Pada era Reformasi khususnya pemerintahan Gus Dur, perayaan Imlek mendapatkan pengakuan secara nasional bahkan menjadi hari libur resmi.

Salah satu keunikan perayaan Imlek di Indonesia merupakan inklusivitasnya. Dengan kata lain, tradisi ini tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Tionghoa.

“Misalnya tradisi bagi-bagi angpao kini juga kita temukan dalam perayaan Idulfitri. Makanan khas Imlek seperti mie panjang umur dan kue keranjang juga sudah kita kenal, dan menjadi bagian dari tradisi kita bersama,” tutur Shinta.

Kepada UNAIR NEWS, Shinta mengatakan bahwa banyaknya simbol Imlek yang diadopsi oleh masyarakat luas. Misalnya barongsai yang kini banyak dimainkan berbagai etnis, hingga pernak-pernik Imlek yang dijual oleh orang dari berbagai latar belakang. “Ini memperlihatkan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa,” ucapnya.

Dosen Ilmu Sejarah UNAIR itu juga mengungkap bahwa ada elemen filosofis dari setiap pernak-pernik Imlek yang umumnya ada. Warna merah misalnya, melambangkan keberuntungan dan kesuksesan. Sedangkan, emas melambangkan kemakmuran.

Makanan khas seperti kue keranjang melambangkan harapan kehidupan yang bahagia, teksturnya yang lengket mencerminkan eratnya hubungan persaudaraan.

Perayaan Imlek juga seringkali diidentikan dengan hujan sebagai pembawa rezeki berlimpah. “Mereka memercayai bahwa sebelum perayaan Imlek, Dewi Kwan Im turun ke Bumi untuk menyiram bunga meihua. Sehingga, hujan yang turun kita yakini sebagai siraman air dari Dewi,” imbuhnya.

Pada akhir, Shinta menegaskan bahwa perayaan Imlek di Indonesia tidak hanya sebuah momentum budaya. Perayaan ini sebagai simbol keragaman dan harmoni yang harus dipertahankan di tengah maraknya globalisasi.

“Dengan memahami secara baik filosofi di balik tradisi ini. Harapannya masyarakat bisa menjadikannya sebagai inspirasi memperkuat nilai kebersamaan dan persatuan, “ tutup Shinta. (ita)

IMLEK
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.