Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum refleksi perjuangan jurnalis perempuan Indonesia. Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) menegaskan bahwa Roehana Koeddoes merupakan figur penting yang terus menginspirasi kerja-kerja advokasi dan perlindungan jurnalis perempuan hingga saat ini.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum FJPI, Khairiah Lubis, dalam diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang digelar di IDN HQ, Jakarta Selatan. Acara ini merupakan hasil kolaborasi FJPI, IDN Times, dan Yayasan Amai Setia.
“Roehana Koeddoes bukan hanya tokoh sejarah, tetapi simbol perjuangan kebebasan pers dan perlindungan perempuan,” ujar Awi.
Ia menjelaskan bahwa semangat berhimpun jurnalis perempuan dalam FJPI berakar dari sejarah pers perempuan Indonesia. Roehana Koeddoes dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama yang mendirikan media sendiri, Soenting Melajoe, pada awal abad ke-20. Selain itu, kehadiran surat kabar Perempuan Bergerak di Medan turut menjadi bagian penting dari sejarah tersebut.
Awi menambahkan, Roehana Koeddoes memiliki hubungan historis dengan Medan, kota tempat FJPI pertama kali berdiri. Roehana diketahui pernah menetap di Medan dan aktif menulis di Perempuan Bergerak.
“Jejak sejarah itu menjadi sumber semangat bagi jurnalis perempuan. Kini FJPI hadir dari Aceh sampai Papua dengan berbagai program penguatan kapasitas,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Awi juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi jurnalis perempuan, terutama terkait kekerasan berbasis gender. FJPI, menurutnya, telah menyusun SOP penanganan kekerasan seksual dan terus mendorong media agar memiliki mekanisme perlindungan yang jelas.
“Perjuangan Roehana Koeddoes harus dilanjutkan, tidak hanya melalui karya jurnalistik, tetapi juga dengan memastikan jurnalis perempuan bekerja dalam lingkungan yang aman,” tutupnya. (tas)

