Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Prof Dwi Murtiastutik Kembangkan Potensi EGCG Teh Hijau sebagai Terapi Alternatif Kandidiasis Oral pada Pasien HIV/AIDS

Prof Dwi Murtiastutik Kembangkan Potensi EGCG Teh Hijau sebagai Terapi Alternatif Kandidiasis Oral pada Pasien HIV/AIDS

PERISTIWA Ita Nasyi’ah15/05/2026 - 11:03 WIB
Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR Prof Dwi Murtiastutik memaparkan inovasi terapi EGCG teh hijau dalam pengukuhan guru besar di Kampus MERR-C UNAIR.

Kandidiasis oral masih menjadi salah satu infeksi oportunistik yang kerap dialami pasien HIV/AIDS akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan terapi alternatif, terutama di tengah meningkatnya resistensi terhadap obat antijamur konvensional yang selama ini digunakan dalam penanganan infeksi jamur.

Berangkat dari persoalan tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr dr Dwi Murtiastutik SpDVE Subsp Ven FINSDV FAADV, memperkenalkan inovasi terapi berbasis Epigallocatechin Gallate (EGCG), senyawa aktif utama yang terkandung dalam teh hijau atau Camellia sinensis. Gagasan itu disampaikan dalam pidato pengukuhan guru besar yang digelar di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Rabu (13/5/2026).

Dalam paparannya, Prof Dwi menjelaskan bahwa kandidiasis oral merupakan infeksi jamur yang paling sering menyerang pasien HIV/AIDS. Selama ini, pengobatan umumnya menggunakan antijamur seperti flukonazol. Namun, penggunaan jangka panjang memunculkan tantangan baru berupa resistensi jamur terhadap terapi yang tersedia.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian penting dalam dunia kesehatan karena dapat mempersulit proses pengobatan dan meningkatkan risiko komplikasi pada pasien dengan sistem imun rendah.

“Peningkatan resistensi terhadap obat antijamur menjadi tantangan serius dalam penanganan kandidiasis oral, khususnya pada pasien HIV/AIDS. Karena itu, pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alami perlu terus dikembangkan,” ujar Prof Dwi.

Ia menjelaskan, EGCG memiliki sejumlah karakteristik biologis yang dinilai potensial untuk membantu menghambat pertumbuhan jamur penyebab kandidiasis oral. Selain bersifat antimikroba, senyawa tersebut juga memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, hingga imunomodulator.

Dalam penelitian yang dikembangkannya, EGCG bekerja melalui dua mekanisme utama. Pertama, menghambat pertumbuhan jamur secara langsung. Kedua, membantu meningkatkan respons imun mukosa melalui stimulasi sel Th17 yang berperan dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi jamur.

Prof Dwi menilai pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif terapi yang menjanjikan di masa mendatang, terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat antijamur sintetis.

“Epigallocatechin gallate atau EGCG menjadi fokus penelitian karena memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jamur sekaligus mendukung sistem imun tubuh,” jelasnya.

Dalam riset yang dilakukan, EGCG menunjukkan efektivitas signifikan terhadap beberapa spesies Candida, termasuk jenis non-albicans yang selama ini dikenal lebih sulit ditangani dengan terapi standar.

Penelitian yang dilakukan sejak 2019 itu menunjukkan adanya perbedaan bermakna secara statistik terhadap zona hambat pertumbuhan jamur setelah pemberian EGCG. Temuan tersebut dinilai memperkuat potensi EGCG sebagai kandidat terapi tambahan dalam penanganan kandidiasis oral.

Selain efektivitas biologisnya, Prof Dwi juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam pengembangan terapi berbasis bahan alam. Menurutnya, ketersediaan teh hijau yang melimpah menjadi salah satu keunggulan yang dapat mendukung pengembangan riset lanjutan di bidang farmasi dan kesehatan.

“Indonesia memiliki sumber bahan baku yang mudah diperoleh. Hal ini menjadi peluang besar untuk mengembangkan terapi alternatif berbasis herbal yang lebih terjangkau dan berpotensi dikembangkan secara luas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, hasil penelitian tersebut masih memerlukan pengembangan lebih lanjut melalui uji lanjutan agar dapat diimplementasikan secara lebih luas dalam praktik klinis.

Tak hanya memaparkan hasil penelitian, Prof Dwi juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan peneliti muda agar terus berkomitmen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan riset kesehatan.

Menurutnya, proses penelitian sering kali menghadapi tantangan dan hambatan, sehingga dibutuhkan ketekunan serta konsistensi dalam menjalankan penelitian ilmiah.

“Ibarat seseorang jatuh lalu bangkit kembali, proses itu harus terus dijalani sampai tujuan tercapai. Karena itu, penting untuk tetap semangat dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan,” pesannya.

Pengukuhan guru besar tersebut sekaligus menambah kontribusi akademik UNAIR dalam pengembangan inovasi kesehatan berbasis riset. Selain mendukung pengembangan ilmu kedokteran, penelitian terkait EGCG juga diharapkan dapat membuka peluang pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alam Indonesia di masa mendatang. (ita) 

EGCG Fakultas Kedokteran Unair HIV/AIDS kandidiasis oral Prof Dwi Murtiastutik teh hijau terapi antijamur Unair
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.