PTPN VIII Genjot Pasar Ritel Teh
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

PTPN VIII Genjot Pasar Ritel Teh

Perusahaan perkebunan negara yang berbasis di Jawa Barat-Banten, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII menggenjot pasar ritel domestik teh dengan mengusung konsistensi mutu dan keamanan pangan.

Kasubag Komunikasi Perusahaan dan PKBL PTPN VIII, Venny Octariviani di Bandung menyebutkan, bahwa faktor konsistensi mutu dan keamanan pangan merupakan andalan PTPN VIII untuk merebut kepercayaan konsumen dalam negeri.

Disebutkan, bahwa PTPN VIII pun sedang agresif memasarkan tiga merek dagangnya untuk pasar dalam negeri. Yaitu, Walini, Goalpara, dan Gunung Mas, yang masing-masing memiliki wilayah pasarnya di Indonesia.

“Tentu saja, PTPN VIII merasa memiliki tanggungjawab moril untuk memasarkan produk-produk teh yang konsisten mutu dan keamanan pangan untuk bangsa Indonesia sendiri,” ujar Venny.

Diketahui, bahwa para konsumen dunia, termasuk di Indonesia, kini semakin selektif dalam memilih kebutuhan pangan, termasuk konsumsi teh. Apalagi, teh diketahui merupakan bahan seduhan minuman yang memiliki khasiat kesehatan.

Karena itu, agar manfaatnya menjadi optimal, selain cita rasa, aspek konsistensi mutu dan keamanan pangan menjadi pertimbangan utama.

Sementara itu, DPRD Jawa Barat mendorong Pemprov Jawa Barat membuat sebuah kajian mendalam terkait perluasan area wilayah penghasil teh. Sebab, saat ini wilayah penghasil teh masih didominasi dari Jawa Barat bagian Selatan.

“Untuk meningkatkan kuantitas ekspor komoditas teh Jawa Barat, Pemprov harus miliki kajian mendalam terkait perluasan area wilayah penghasil teh. Saat ini, wilayah penghasil teh masih didominasi dari wilayah Jawa Barat Selatan,” kata anggota Komisi II DPRD Jawa Barat Yuningsih.

Yuningsih mengatakan Jawa Barat terdiri dari wilayah utara dan selatan dan perkebunan teh banyak tersebar di wilayah selatan.

“Semoga ke depan ada kajian untuk memperluas perkebunan teh sehingga tidak hanya di wilayah selatan saja,” kata Yuningsih, dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dengan daerah asal Kabupaten Cirebon ini.

DPRD Jawa Barat, kata dia, akan terus melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengawal eksistensi teh Jawa Barat.

“Kami Komisi II akan terus mengawal tidak hanya pengawalan di kualitas, tapi juga mungkin fasilitasi permodalan yang ditujukan kepada petani. Karena hakikatnya eksekutor untuk melakukan fasilitasi terdapat di dinas terkait tetapi kebijakan ada di Komisi II,” kata dia.

Berdasarkan catatan DeskJabar, keberadaan unit-unit perkebunan teh di Jawa Barat memang umumnya pada di wilayah selatan dan tengah.

Sebab, ini berkaitan dengan kecocokan lahan untuk tanaman teh. Sebab, daerah selatan dan tengah Jawa Barat kondisi alamnya bergunung-gunung dan iklimnya sejuk.

Lain halnya pada bagian utara Jawa Barat, kondisi lahannya relatif mendatar dan suhunya hangat bahkan cenderung panas. Karena itu, di utara Jawa Barat tanaman-tanaman perkebunan yang diusahakan kebanyakan adalah karet dan tebu. (ist)