Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang hadir di tengah masyarakat melalui aksi nyata kemanusiaan. UNAIR mengerahkan relawan, bantuan berbasis teknologi, serta tim manajemen bencana untuk mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Langkah tersebut menjadi wujud konkret komitmen UNAIR dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mempertegas bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai pusat keilmuan, tetapi juga agen kemanusiaan yang responsif terhadap kondisi darurat.
Pada Jumat (12/12/2025), Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Prof. Hery Purnobasuki, MSi., PhD., memberikan pengarahan kepada tim yang akan diberangkatkan ke lokasi bencana pada Sabtu (13/12/2025). Tim tersebut terdiri atas dosen dan mahasiswa dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), Sekolah Pascasarjana (SPS), serta jajaran koordinator dan staf LPMB.
Wujud Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan
Dalam pengarahan yang berlangsung di Ruang Sidang LPMB lantai 2 Kantor Manajemen UNAIR, Prof. Hery menegaskan bahwa keterlibatan UNAIR merupakan bentuk kepedulian sosial dan kemanusiaan yang harus terus dijaga.
“Ini adalah bentuk kepedulian kita untuk membantu dengan apa pun yang kita miliki. Baik bantuan materi, dukungan keilmuan, hingga doa yang juga memiliki arti penting,” ujarnya.
Ia berharap, kehadiran dosen dan mahasiswa UNAIR di lokasi bencana tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga mampu menghadirkan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
Salurkan Bantuan Berbasis Teknologi
Dukungan UNAIR dalam pemulihan pascabencana juga diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi. Dosen FTMM yang tergabung dalam Tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR, Yoga Uta Nugraha, ST., MT., menjelaskan bahwa tim membawa sejumlah perangkat strategis untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat dan relawan di lapangan.
“Kami membawa filter air untuk memurnikan air dari berbagai sumber, baik air tanah, sumur, maupun air banjir agar layak konsumsi,” jelasnya.
Selain itu, UNAIR juga menyediakan dukungan suplai energi melalui inverter, serta perangkat komunikasi berbasis satelit menggunakan Starlink. Fasilitas ini disiapkan untuk mengatasi keterbatasan jaringan komunikasi akibat rusaknya infrastruktur pascabencana.
“Dengan komunikasi satelit, koordinasi tim di lapangan, khususnya dalam pelayanan kesehatan di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, dapat berjalan lebih optimal,” tambahnya.
Siagakan Tim Manajemen Bencana
Tak hanya bantuan teknis, UNAIR juga menurunkan tim dengan keahlian khusus di bidang manajemen bencana melalui Sekolah Pascasarjana. Dosen Program Magister Manajemen Bencana SPS UNAIR, Aditya Prana Iswara, ST., MSc., PhD., menyampaikan bahwa timnya telah melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan situasi bencana di Pulau Sumatra sebelum diterjunkan.
Tim Manajemen Bencana SPS juga melakukan penggalangan dana serta donasi yang melibatkan kolaborasi lintas perguruan tinggi, termasuk Universitas Andalas dan Universitas Syiah Kuala. Seluruh upaya tersebut diselaraskan dengan program tanggap darurat yang dijalankan oleh BPBD setempat.
“Kami ingin memastikan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat logistik, tetapi juga mencakup pendampingan psikologis, sosial, dan kesehatan. Korban bencana membutuhkan pemulihan secara menyeluruh,” tegasnya.
Melalui sinergi antara keilmuan, teknologi, dan nilai kemanusiaan, UNAIR berharap kehadirannya di wilayah terdampak bencana dapat mempercepat proses pemulihan dan memperkuat ketahanan masyarakat ke depan. (tas)

