Kontribusi riset dosen Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (FKp UNAIR) kembali mendapat pengakuan nasional dan internasional. Prof. Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., berhasil meraih penghargaan Terbaik II Anugerah Diktisaintek 2025 Kategori Ilmuwan Muda Terbaik Bidang STEM yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jumat (19/12/2025).
Penghargaan ini diberikan atas kontribusi signifikan Prof Ferry dalam riset migrasi perawat Indonesia yang tidak hanya berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi langsung pada perumusan kebijakan publik sektor kesehatan di tingkat global.
Riset Migrasi Perawat Berbasis Siklus Kebijakan
Prof Ferry menjelaskan bahwa riset yang dikembangkannya menelaah migrasi perawat Indonesia melalui pendekatan komprehensif berbasis siklus kebijakan. Penelitian ini mencakup fase pra-migrasi, masa kerja di negara tujuan, hingga pasca-migrasi saat perawat kembali ke Indonesia.
“Riset kami tidak hanya berbicara soal pengalaman individu, tetapi juga tata kelola, pemanfaatan, dan perlindungan perawat migran Indonesia secara sistemik,” ungkapnya.
Hingga saat ini, sedikitnya 24 publikasi ilmiah hasil riset tersebut telah dirujuk oleh lembaga global seperti World Health Organization (WHO), Bank Dunia, dan World Trade Organization (WTO), menjadikannya rujukan penting dalam penyusunan kebijakan kesehatan internasional.
Keunggulan Riset dan Dampak Global
Keunikan riset Prof Ferry terletak pada kajian mendalam terkait faktor keberhasilan perawat Indonesia di luar negeri, mulai dari kesiapan bahasa, mental, dan kompetensi, proses adaptasi dan sertifikasi, hingga pemanfaatan kompetensi pasca-kepulangan melalui konsep brain circulation dan brain gain.
“Tujuan akhirnya adalah memperkuat sistem kesehatan nasional melalui optimalisasi kompetensi perawat migran,” jelasnya.
Ekosistem Riset UNAIR Dorong Kolaborasi Global
Prof Ferry juga menyoroti tantangan utama riset STEM, yakni mengaitkan persoalan lokal dengan kebutuhan global. Berdasarkan data WHO, dunia masih kekurangan sekitar 5,9 juta perawat, yang membuka peluang strategis bagi Indonesia.
Saat ini, tim risetnya memperoleh dukungan pendanaan miliaran rupiah dari Jerman untuk riset longitudinal selama lima tahun bersama mitra internasional. Menurutnya, ekosistem riset UNAIR sangat mendukung kolaborasi global secara berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Prof Ferry mendorong peneliti muda untuk adaptif, solutif, dan berorientasi dampak. “Impian kami sederhana namun besar, yakni perawat Indonesia merawat dunia,” pungkasnya. (tas)

