Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan setelah menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Mei 2026. Pelemahan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dan ekonom karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta tensi geopolitik internasional yang belum mereda.
Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Rahma Gafmi SE MEc, menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibanding kondisi domestik. Menurutnya, kombinasi konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya suku bunga AS, serta arus modal global yang bergerak menuju aset aman menjadi faktor utama yang memperlemah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Dalam kondisi saat ini, faktor global memberi pengaruh yang sangat besar terhadap pergerakan rupiah. Ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat membuat investor lebih memilih aset safe haven,” ujar Rahma, Senin (19/5/2026).
Ia menjelaskan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya jalur perdagangan energi di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan dolar AS bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Menurut Rahma, meningkatnya kebutuhan impor energi membuat permintaan dolar AS di dalam negeri ikut naik sehingga menambah tekanan terhadap rupiah. Situasi itu diperparah oleh tingginya suku bunga acuan Federal Reserve atau The Fed yang membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang.
“Ketika suku bunga AS tinggi, modal asing cenderung keluar dari emerging market dan kembali ke instrumen investasi berbasis dolar. Dampaknya terasa langsung terhadap stabilitas nilai tukar,” jelasnya.
Selain tekanan global, pasar juga menyoroti sejumlah faktor domestik yang dianggap dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah kekhawatiran terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat tingginya subsidi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Rahma mengatakan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen perusahaan pada triwulan II-2026 turut meningkatkan tekanan di pasar valuta asing domestik. Meski demikian, ia menilai faktor domestik lebih berperan sebagai penguat tekanan eksternal dibanding penyebab utama pelemahan rupiah.
“Pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Ketika ada kekhawatiran terhadap fiskal maupun stabilitas ekonomi, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, langkah intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Rahma menilai instrumen intervensi seperti swap, forward, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) cukup efektif untuk menjaga pasar tetap terkendali dan mencegah kepanikan.
Menurutnya, kebijakan BI saat ini tidak hanya berfokus menahan pelemahan rupiah, tetapi juga menjaga agar mekanisme pasar tetap berjalan secara teratur atau orderly market.
“Intervensi Bank Indonesia penting untuk menjaga stabilitas dan menghindari kepanikan seperti yang pernah terjadi pada krisis ekonomi 1998,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan nilai tukar dalam jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter. Penguatan sektor riil, peningkatan produktivitas nasional, dan masuknya investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dinilai menjadi faktor utama untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.
Rahma menilai stabilitas nilai tukar akan lebih terjaga apabila Indonesia memiliki struktur ekonomi yang produktif dan tidak terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek. Oleh karena itu, penguatan industri domestik dan peningkatan daya saing ekspor menjadi hal penting untuk dilakukan.
“Nilai tukar yang kuat lahir dari fundamental ekonomi yang sehat. Ketika sektor riil tumbuh dan produktivitas meningkat, maka kepercayaan terhadap rupiah juga akan lebih kuat,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah dan otoritas moneter dapat menjaga koordinasi kebijakan agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih berfluktuasi. Selain itu, kepastian kebijakan fiskal dan iklim investasi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga menjadi pengingat bahwa perekonomian nasional masih sangat dipengaruhi dinamika global. Karena itu, penguatan daya tahan ekonomi domestik dinilai menjadi langkah strategis agar Indonesia mampu menghadapi tekanan eksternal secara lebih stabil dan berkelanjutan. (ita)

