PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menegaskan komitmen pertumbuhan berkelanjutan melalui sejumlah keputusan strategis dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Kantor Pusat Surabaya, Rabu (6/5/2026). Salah satu keputusan utama adalah persetujuan pembagian dividen sebesar Rp850,17 miliar atau setara 55 persen dari laba bersih perusahaan.
Rapat tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai pemegang saham pengendali, bersama jajaran dewan komisaris, direksi, serta dewan pengawas syariah. Selain pembagian dividen, forum juga menyetujui laporan tahunan perseroan, pengesahan laporan keuangan, hingga perubahan struktur organisasi dan susunan pengurus.
Dalam arahannya, Khofifah menyoroti capaian kinerja Bank Jatim sepanjang 2025 yang dinilai menunjukkan pertumbuhan positif di tengah dinamika ekonomi. Indikator tersebut terlihat dari peningkatan aset, penyaluran kredit, serta penguatan dana pihak ketiga (DPK). Ia menekankan bahwa konsistensi kinerja harus diimbangi dengan penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Khofifah juga mendorong Bank Jatim untuk terus memperkuat peran strategisnya sebagai penggerak ekonomi daerah. Menurutnya, bank daerah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai katalisator yang menghubungkan kebijakan fiskal pemerintah dengan sektor riil. Oleh karena itu, penguatan pembiayaan sektor produktif, khususnya UMKM, serta percepatan transformasi digital menjadi prioritas ke depan.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim Winardi Legowo menjelaskan bahwa kinerja positif perseroan merupakan hasil dari strategi bisnis yang adaptif dan terukur. Sepanjang 2025, Bank Jatim berhasil mencatatkan aset konsolidasi sebesar Rp168,85 triliun atau tumbuh 42,93 persen secara tahunan. Laba bersih konsolidasi juga meningkat menjadi Rp1,61 triliun atau naik 24,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berlanjut pada kuartal I 2026. Bank Jatim mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp661 miliar, melonjak 90,41 persen secara tahunan. Kinerja ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih yang signifikan serta penguatan layanan digital yang semakin memperluas jangkauan nasabah.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit konsolidasi hingga Maret 2026 mencapai Rp109,22 triliun atau tumbuh 40,85 persen secara tahunan. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga meningkat menjadi Rp122,80 triliun, menunjukkan kepercayaan publik yang terus menguat terhadap Bank Jatim.
Selain aspek kinerja, RUPST juga menetapkan perubahan penting dalam struktur organisasi. Perseroan melakukan penyesuaian nomenklatur sejumlah posisi direksi untuk mendukung efektivitas operasional. Di sisi lain, penguatan manajemen juga dilakukan melalui penunjukan Andry Wicaksono sebagai Direktur Manajemen Risiko. Sementara Moh. Nasih dipercaya mengisi posisi Komisaris Independen, dan Abdullah Syamsul Arifin masuk dalam jajaran Dewan Pengawas Syariah.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi memperkuat tata kelola perusahaan serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat. Dengan struktur manajemen yang lebih solid, Bank Jatim optimistis mampu mengakselerasi transformasi bisnis berbasis digital sekaligus memperluas sinergi dalam Kelompok Usaha Bank (KUB).
Ke depan, Bank Jatim menargetkan pertumbuhan yang lebih inklusif dengan tetap menjaga kualitas aset dan efisiensi operasional. Perseroan juga menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, khususnya di Jawa Timur.
Dengan kombinasi kinerja keuangan yang solid, inovasi layanan, serta penguatan tata kelola, Bank Jatim berupaya mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank pembangunan daerah terdepan di Indonesia. (ita)

