Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Saat Seni Indonesia ke Pentas Dunia

Saat Seni Indonesia ke Pentas Dunia

SENI BUDAYA redaksi10/11/2017 - 16:00 WIB

Pameran seni rupa kontemporer Indonesia kini semakin berkembang. Di beberapa kota di Indonesia tiga biennale akan hadir dalam waktu berdekatan, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, dan Makassar Biennale.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung hadirnya biennale ini di berbagai kota sebagai kesadaran pemerintah untuk mengangkat seni budaya kontemporer Indonesia di pentas dunia.

“Penyelenggara sepakat menyajikan acara ini secara simultan karena sangat efektif dan memudahkan Indonesia untuk menarik tamu-tamu internasional,” ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik di jumpa pers tiga kota biennale di Senayan City, Jakarta.

Menurut Ricky pameran ini penting dihadirkan ke publik untuk mengangkat peran seni kontemporer Indonesia di dalam konstelasi dunia seni rupa saat ini, hal ini senada dengan arahan Presiden Jokowi agar menyajikan Indonesia lebih komprehensif. Ia juga menambahkan jika acara ini sukses, maka hal yang sama dapat dijadikan agenda rutin dua tahunan.

Secara berurutan Jogja Biennale akan dibuka pada tanggal 2 November dengan melanjutkan seri “Equator”nya. Kali ini akan hadir Equator #4 dengan tema utama STAGE of HOPELESSNESS. Acara ini akan berlangsung hingga 10 Desember di Museum Nasional Jogja dan menghadirkan 27 seniman Indonesia yang telah dikurasi dan 12 seniman Brasil.

Sementara itu Jakarta Biennale akan dibuka pada tanggal 4 November-10 Desember dengan mengangkat tema “JIWA” yang akan berlangsung di tiga tempat yaitu Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Seni Rupa dan Keramik dan Museum Sejarah Jakarta. Acara ini akan melibatkan 51 seniman Indonesia dan mancanegara.

Sedangkan Makassar Biennale akan hadir pada 8-28 November di Menara Pinisi, Makassar dengan menghadirkan tema “Maritim”. Seniman dari Aceh hingga Papua direncanakan akan berpartisipasi dalam acara yang digelar untuk kedua kalinya ini.

Anwar ‘Jimpe’ Rachman, selaku Direktur Makassar Biennale 2017 menjelaskan bahwa Makassar Biennale menetapkan Maritim sebagai tema abadi. “Ini ajang seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia Timur, dan mungkin termasuk Biennale terbesar di dunia yang berbasis Maritim,” ujarnya.

Di dalamnya pula bukan hanya jaringan seni rupa nasional dan internasional yang mengemuka. Makassar Biennale membuka ruang bagi warga berjejaring dengan menampilkan dan memamerkan karya-karya UKM rintisan (maksimum berusia 2 tahun).

Ini menandakan bahwa bukan hanya antar seniman dan seniman yang “bertransaksi”, warga (yang ketika Biennale berakhir) pun akan terus bergeliat dengan usaha-usahanya.”

Biennale saat ini tampaknya menjadi sebuah prasyarat bagi negara mana pun yang ingin bergabung pada peta seni budaya kontemporer dunia. Indonesia, melalui ketiga Biennale yang hadir adalah salah satu peserta dunia yang penuh dengan rasa optimis untuk mensinyalkan kedatangannya di kancah seni budaya dunia. (sak)

Surabaya Creative City Forum
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.