Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar SAGAVET 2026 di Rama Ballroom Lt.1 Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan yang diselenggarakan bersama Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UA) Komisariat FKH itu mengangkat tema mengenai dampak penyakit Newcastle Disease (ND), kualitas pakan, hingga peningkatan kesehatan hewan kesayangan.
Salah satu pembahasan utama dalam forum tersebut adalah ancaman Newcastle Disease terhadap sektor peternakan unggas di Indonesia. Dalam sesi bertajuk One Hundred Years Newcastle Disease in Indonesia, What Happened?, Prof. Dr. Suwarno drh MSi memaparkan bahwa Newcastle Disease masih menjadi penyakit endemis yang sulit dikendalikan dan berdampak besar terhadap industri peternakan.
Menurut Suwarno, perjalanan Newcastle Disease selama satu abad terakhir menunjukkan bahwa virus tersebut terus mengalami evolusi dan mutasi. Perubahan genetik virus dinilai menjadi tantangan utama dalam proses pengendalian karena mampu meningkatkan kemampuan adaptasi virus terhadap lingkungan maupun inang yang berbeda.
“Newcastle Disease hingga kini masih menjadi ancaman global bagi sektor peternakan unggas. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan tingginya angka kematian unggas, tetapi juga berdampak pada penurunan produktivitas peternakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awalnya virus ND lebih banyak ditemukan menyerang ayam. Namun, dalam perkembangannya, virus tersebut mulai terdeteksi pada berbagai jenis burung lain, seperti burung pemakan biji, burung pemakan daging, hingga burung penghasil madu. Kondisi itu menunjukkan adanya perluasan reservoir virus yang membuat penyebaran penyakit semakin sulit dipetakan dan dikendalikan.
Selain faktor mutasi, mobilitas hewan serta interaksi antarpopulasi burung disebut turut mempercepat penyebaran Newcastle Disease di berbagai wilayah. Karena itu, pengawasan kesehatan hewan dan sistem biosekuriti peternakan dinilai perlu diperkuat untuk mencegah penyebaran virus secara lebih luas.
Suwarno menambahkan, dampak Newcastle Disease tidak hanya dirasakan pada sektor kesehatan hewan, tetapi juga berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional. Wabah ND berpotensi mengganggu produksi unggas dan ketersediaan sumber protein hewani bagi masyarakat.
“Ketika wabah terjadi, kerugian ekonomi peternak bisa sangat besar. Produksi menurun, angka kematian unggas meningkat, dan distribusi pangan juga ikut terdampak,” katanya.
Dalam pemaparannya, Suwarno juga menyinggung potensi penelitian virus ND di bidang kesehatan. Menurutnya, sejumlah studi masih terus dilakukan untuk memahami kemungkinan pemanfaatan virus tersebut dalam pengembangan ilmu kesehatan dan veteriner di masa mendatang.
Melalui SAGAVET 2026, FKH UNAIR berharap kegiatan ilmiah tersebut dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai ancaman penyakit hewan, khususnya Newcastle Disease, sekaligus mendorong kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pelaku industri peternakan dalam menghadapi tantangan kesehatan hewan yang terus berkembang.
Selain seminar ilmiah, rangkaian SAGAVET 2026 juga diisi dengan pembahasan kualitas pakan ternak, kesehatan hewan kesayangan, hingga peluncuran Buku 55 Tahun FKH UNAIR sebagai refleksi perjalanan fakultas dalam bidang pendidikan dan kesehatan veteriner di Indonesia. (ita)

