SCARA & Penulis Skenario Cerita Anak
PERISTIWA SENI BUDAYA

SCARA & Penulis Skenario Cerita Anak

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Wahana Kreator menyelenggarakan program inkubasi penulis Skenario Cerita Anak Nusantara (SCARA) sesi akhir pada 8-11 Oktober 2019 di Goodrich Suites, Jakarta.

Dalam kegiatan ini peserta SCARA diajak belajar bekerja secara profesional dalam writer’s room session.

EVP Commercial Wahana Kreator, Sigit Pratama menatakan SCARA bukan hanya sekedar program inkubasi, tetapi lebih kepada tujuan kami melahirkan penulis skenario andal yang siap terjun di industri.

“Mereka kami ajak ke writer’s room di mana kami membagi peserta dalam beberapa peran, yaitu story developer, story editor, head of creative development dan writer’s assistant. Ini seperti mini writer’s room dan kesempatan ini belum tentu bisa mereka peroleh saat menjadi penulis tunggal,” ujar Sigit Pratama pekan lalu di Jakarta.

Menurut Sigit, output dari sesi terakhir ini diharapkan bisa menghasilkan draf 1 (satu) yang di dunia produksi diartikan sudah dapat diprediksi berapa biaya yang diperlukan untuk proses produksinya.

Saat bicara produksi, pihaknya berharap setelah program ini, peserta bukan hanya menjadi penulis skenario profesional tetapi mereka bisa benar-benar mengaplikasikan apa yang sudah mereka dapat di writer’s room untuk meningkatkan kualitas penceritaan film nasional, khususnya cerita anak dan keluarga.

Sigit menambahkan bahwa secara industri kami tidak bisa menjamin mereka mendapatkan pekerjaan, namun Bekraf bersama Wahana Kreator bertugas memfasilitasi, mengedukasi untuk memahami struktur dan sistem penulisan skenario cerita yang tepat dan relevant, khususnya cerita anak dan keluarga.

Setelah mereka teredukasi, maka saat itu mereka diharapkan bisa masuk ke dalam industri perfilman nasional ataupun penerbitan sehingga ekonomi kreatif dapat bertumbuh.

Perbedaan latar belakang dan usia dalam masing-masing kelompok di writer’s room session ini membantu jalannya proses penulisan skenario, banyaknya pendapat dan pandangan baru dari masing-masing peserta membuat penggarapan cerita lebih matang dan berkembang.

Indah Kusuma Effendi (24) seorang freelance scriptwriter yang merupakan salah satu peserta SCARA tahun ini menyampaikan apa yang didapat dari program ini berbeda dari kelas-kelas penulisan skenario lainnya.

Pertama, karena penulisan ini ditujukan khusus untuk skenario cerita anak maka sebelum peserta masuk ke kelas penulisan mereka diajak untuk memahami psikologi dan dunia anak.

Selain itu adanya writer’s room dan pembagian peran di dalamnya membuat ide dan struktur penceritaan menjadi lebih menarik dan relevant.

Berbekal informasi mengenai sifat dan karakter Pandawa Junior serta pemahaman tentang anak, Indah dan tim membuat cerita berjudul Bunga untuk Arimbi.

Kisah ini becerita tentang Arimbi yang kehilangan tanaman kesayangannya, namun tanaman tersebut hanya bisa ditemui di Goa Buto. Di sinilah petualangan Bima teman Arimbi dimulai.

Total terdapat 20 skenario cerita anak yang dikembangkan dalam program SCARA 2019 termasuk Bunga Untuk Arimbi, lima di antaranya akan digarap dalam format buku cerita atau e-book, mereka adalah Mesin Karaoke Bima, Rupa-rupa di Dalam Hutan, Bima Punya Cerita, Nakula dan Raket Sakti, dan Menolong Anak Kera.

Dengan berpartisipasi dalam SCARA 2019 ini, Indah berharap bisa menjadi penulis skenario profesional. Jika industri animasi di Indonesia berkembang, Indah juga berharap, dia dan peserta SCARA lainnya bisa mengambil bagian dalam industri animasi nasional untuk dapat menghasilkan karya yang bermanfaat untuk anak Indonesia. (sak)