Perjalanan profesional Meilanny Dyah Kumala Putri menunjukkan bahwa kompetensi sains dasar tetap relevan di sektor strategis seperti industri minyak dan gas bumi. Alumni Fisika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga angkatan 2011 itu kini mengemban tanggung jawab sebagai contract engineer di PT Pertamina EP.
Meilanny menyelesaikan studi sarjana pada 2016. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Institut Teknologi Bandung pada program Teknik Pertambangan periode 2016–2018. Keputusan tersebut diambil setelah melihat peluang pengembangan karier di sektor energi yang dinilainya memiliki tantangan sekaligus prospek jangka panjang.
“Fisika membentuk pola pikir yang logis dan sistematis. Itu sangat membantu ketika harus menganalisis persoalan teknis maupun administratif di industri migas,” ujarnya.
Kariernya di Pertamina dimulai sebagai intern pada 2018. Tidak lama berselang, ia dipercaya menempati posisi well-site engineer selama kurang lebih dua hingga tiga tahun. Dalam peran tersebut, Meilanny terlibat langsung pada kegiatan pengeboran, mulai dari koordinasi kebutuhan teknis, pengawasan operasional, hingga memastikan kegiatan berjalan sesuai standar keselamatan dan prosedur perusahaan.
Pengalaman lapangan itu menjadi fondasi ketika ia beralih ke fungsi manajemen kontrak. Kini, sebagai contract engineer, ia bertanggung jawab dalam penyusunan dokumen kontrak, proses tender, serta pengelolaan pengadaan barang dan jasa yang mendukung operasi pengeboran. Peran tersebut, menurutnya, krusial dalam memastikan setiap tahapan kegiatan hulu migas berjalan sesuai regulasi dan target perusahaan.
“Operasi pengeboran tidak hanya soal teknis di lapangan. Sistem kontrak yang tepat dan akuntabel menjadi penopang utama agar seluruh proses berjalan efektif,” jelasnya.
Meilanny mengakui, tantangan terbesarnya adalah beradaptasi di lingkungan industri yang sebagian besar diisi oleh lulusan teknik perminyakan. Namun, kemampuan analisis kuantitatif, problem solving, serta ketahanan mental yang ditempa selama menempuh pendidikan Fisika justru menjadi nilai tambah.
Ia berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk tidak membatasi pilihan karier berdasarkan jurusan semata. “Tidak linier bukan berarti tidak bisa. Dunia kerja menghargai kompetensi, integritas, dan kemauan belajar,” tegasnya.
Dengan kiprah tersebut, Meilanny membuktikan bahwa lulusan Fisika FST UNAIR mampu berkontribusi signifikan dalam industri hulu migas nasional yang strategis dan kompetitif. (tas)

