Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menghadirkan ruang eksplorasi seni dan kreativitas melalui gelaran TEDxITS Pre-Event 3 (PE3) yang berlangsung Sabtu (23/5). Mengusung tema “Point of View”, kegiatan tersebut mengajak peserta memahami karya seni dari sudut pandang yang beragam sekaligus membuka ruang refleksi terhadap cara setiap individu memaknai kehidupan.
Acara yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Main Event TEDxITS itu menghadirkan sesi Mini TED Talk bersama dua pegiat seni muda inspiratif, yakni DeLiang Al Farabi dan Qurrota’ain Rizky Cahyani.
Dalam pemaparannya, DeLiang Al Farabi yang dikenal sebagai penulis puluhan buku berbahasa Inggris membagikan pandangannya mengenai pentingnya keberanian dalam menembus batas perspektif yang terbentuk sejak kecil. Remaja berusia 13 tahun itu mendorong generasi muda untuk berani merealisasikan imajinasi menjadi karya yang bernilai positif tanpa dibatasi usia maupun latar belakang.
Sementara itu, Qurrota’ain Rizky Cahyani atau Tata menyoroti seni sebagai proses pembelajaran yang bersifat personal bagi setiap individu. Menurutnya, setiap orang memiliki cara dan waktu berbeda dalam memahami sebuah karya maupun menghadapi persoalan hidup. Perbedaan perspektif tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun keberanian untuk tampil berbeda dan lebih percaya diri.
Executive Producer TEDxITS, Mu’adz Dzamir Al Musyarof, menjelaskan bahwa PE3 dirancang sebagai ruang bagi audiens untuk mengeksplorasi sudut pandang baru melalui perpaduan instalasi seni, permainan cahaya, warna, dan emosi.
Menurutnya, pengalaman visual yang dihadirkan dalam acara tersebut diharapkan mampu membantu peserta melihat seni secara lebih terbuka sekaligus mengurangi bias dalam memahami suatu karya maupun fenomena sosial.
Selain sesi Mini TED Talk, rangkaian kegiatan juga akan dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni bertema “The First Mark”, “Unfinished Canvas”, dan “Many Hands, One Wall”. Tidak hanya itu, TEDxITS turut menghadirkan lokakarya bersama komunitas “I’m Not Trash” yang fokus pada pengolahan limbah industri menjadi karya seni kreatif dan bernilai guna.
Melalui kegiatan tersebut, TEDxITS ingin membangun kesadaran bahwa seni tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga sarana membangun keberanian, kreativitas, dan pola pikir terbuka di kalangan generasi muda.
Mu’adz berharap semangat mengeksplorasi perspektif baru melalui seni dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sehari-hari, terutama untuk mendorong anak muda lebih berani mencoba hal baru tanpa takut terhadap penilaian lingkungan sekitar.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin keempat mengenai pendidikan berkualitas melalui pendekatan kreatif, inklusif, dan kolaboratif. (ita)

