Tim Tanggap Darurat Bencana Universitas Airlangga (UNAIR) kembali melanjutkan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana alam. Kali ini, tim gabungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), Sekolah Pascasarjana (SPS), serta Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) fokus menyiapkan solusi penyediaan air bersih dan sumber energi alternatif bagi daerah terisolasi di Sumatra Barat.
Sejak tiba di Sumatra Barat pada Sabtu (13/12/2025), tim UNAIR intensif melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan kelancaran program pengabdian masyarakat tersebut.
Pada Minggu (14/12/2025), sebagian anggota tim berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam untuk memperoleh data terbaru wilayah terdampak. Sementara itu, tim lainnya melakukan survei lapangan di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, sebagai lokasi rencana pemasangan instalasi penjernih air, panel surya, serta perangkat konektivitas satelit Starlink.
Akses Terbatas dan Kebutuhan Mendesak
Perjalanan menuju lokasi survei dari basecamp di Lubuk Basung menuju Malalak Timur memakan waktu sekitar dua jam. Tim harus melewati medan berat akibat terputusnya jembatan penghubung antarkawasan. Untuk menjangkau masyarakat, tim melintasi jembatan darurat yang dibangun di atas aliran sungai berbatu.
Di sela kegiatan survei, tim UNAIR juga turut membantu penyaluran bahan kebutuhan pokok kepada warga setempat melalui jembatan darurat tersebut.
Berdasarkan hasil diskusi dengan wali jorong dan masyarakat, diketahui bahwa sejumlah wilayah di Kecamatan Malalak masih mengalami keterbatasan akses air bersih. Selama ini, warga mengandalkan mata air pegunungan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, pascabencana galodo atau banjir bandang, sumber mata air tersebut terganggu.
“Untuk listrik, kondisinya relatif masih tersedia meski belum pulih sepenuhnya. Namun, kebutuhan air bersih menjadi persoalan paling mendesak,” ungkap salah satu warga saat berdialog dengan tim survei.
Siapkan Instalasi Air Bersih dan Energi Alternatif
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR merencanakan pemasangan instalasi penjernih air dan sumber energi alternatif di sekitar wilayah terdampak.
“Kami sudah memiliki tim yang lebih dulu berada di Malalak, yakni dari Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA), sehingga koordinasi di lapangan menjadi lebih mudah. Alhamdulillah, proses survei juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat,” ujar Ikhsan Rosyid, Koordinator Pengabdian Masyarakat LPMB.
Selain itu, tim UNAIR juga melakukan diskusi teknis dengan relawan dari Universitas Brawijaya terkait pendekatan Water, Sanitation, and Hygiene (WASH). Diskusi ini bertujuan untuk menyelaraskan titik-titik pemasangan instalasi penjernih air agar intervensi yang dilakukan lebih efektif dan tepat sasaran.
Selaras dengan Target SDGs
Langkah yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Program penyediaan air bersih mendukung SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), sementara pemanfaatan teknologi energi dan infrastruktur mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Kolaborasi lintas institusi yang terjalin juga mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui pengabdian masyarakat berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor ini, UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah terdampak bencana dan daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dasar. (tas)

