UGM Kembangkan Alat Sterilisasi Masker N95
PERISTIWA TEKNOLOGI

UGM Kembangkan Alat Sterilisasi Masker N95

Menyiasati kelangkaan dan mahalnya harga masker N95 yang naik di saat pandemi ini, tim peneliti UGM mengembangkan alat sterilisasi masker N95 sehingga masker tersebut bisa dipakai berulang-ulang di rumah sakit dan klinik kesehatan.

Menggunakan tenaga gelombang sinar ultraviolet C (UV-C) yang dipaparkan selama lima menit, alat ini terbukti mampu membunuh kuman dan virus Covid-19 pada masker yang sudah dipakai sebelumnya.

Salah satu anggota tim peneliti, dr Trisasi Lestari MD MMedSc dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM mengatakan pembuatan alat ini bekerja sama dengan peneliti dari Fakultas Teknik UGM. Ide awal pembuatannya dilatarbelakangi dari sulitnya para tenaga medis dalam mendapatkan masker N95 di pasaran.

“Harga masker N95 naiknya sangat luar biasa mahal di era Covid ini. Naik lebih dari 10 kali lipat harga normal. Padahal, sebelum Covid pun harga masker N95 memang sudah lebih mahal dibandingkan masker bedah karena fungsi filternya yg lebih baik,” katanya dalam bincang-bincang dengan wartawan.

Menurutnya, kelangkaan masker N95 ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Badan kesehatan dunia WHO sudah memperbolehkan penggunaan masker N95 secara berulang dengan mensterilkan dahulu sampai masker tampak kotor atau rusak.

“Idealnya tidak lebih dari 3 kali sterilisasi. Banyak RS membuat alat sterilisasi masker N95 tetapi tanpa perhitungan kekuatan lampu UVC atau lama paparan yang baik sehingga masker malah rusak. Kita pun terdorong membuat alat sterilisasi UVC yang didesain khusus untuk masker N95,” ujarnya.

Bukan hanya di saat Covid sekarang ini, ide untuk sterilisasi masker N95 ini menurutnya sudah ada sejak lama sejak ia banyak menangani pasien penderita Tuberkulosis (TB).

“Untuk menangani pasien MDR TB harus menggunakan masker N95. Ketersediaannya juga terbatas dan satu masker bisa dipakai sampai satu minggu oleh petugas TB di puskesmas dengan hanya digantung/diangin anginkan di bawah sinar matahari utk mensterilkannya karena keterbatasan fasilitas,” katanya.

Meski begitu, ia bersyukur justru di saat pandemi ini idenya terwujud dengan menggandeng peneliti lain dari Fakultas Teknik UGM. “Saya mengusulkan pembuatannya ke sekelompok dosen teknik dan disambut baik dan didukung oleh Eka Firmansyah dan mahasiswa bimbingannya untuk mewujudkan alatnya,” paparnya.

Ia menceritakan proses pembuatan alat ini dimulai sejak awal April lalu dan selesai dalam waktu satu bulan. Alatnya pun dibuat dalam dua ukuran yang mampu menampung 3 atau 9 masker sekaligus. Pemilihan gelombang sinar ultraviolet UV-C menurutnya dengan pertimbangan matang agar tidak merusak kualitas masker saat disterilisasi.

“Kita gunakan gelombang sinar UV-C dengan panjang gelombang antara 250-270nm, terbukti mampu merusak langsung DNA dan RNA bakteri atau virus sehingga efeknya mematikan bakteri dan virus itu sendiri,” katanya.

Proses sterilisasi masker dengan menggunakan paparan sinar ultraviolet UV-C ini hanya memakan waktu selama kurang lebih lima menit untuk membunuh kuman dan virus yang menempel. “Untuk box yang kami buat ini dengan waktu sterilisasi 5 menit sudah terbukti tidak ada kuman yang tumbuh,” terangnya.

Ia menambahkan, alat sterilisasi ini sebenarnya tidak hanya bisa diperuntukan pada masker, namun juga bisa digunkan pada alat medis lainnya seperti gunting, pisau bedah, dan kasa. “Berapa lama efektif paparannya belum kami ukur. Tetapi asumsinya dengan lama paparan 5-10 menit sudah cukup mematikan,” katanya.

Alat ini, kata Trisasi, rencananya akan distribusikan dulu ke beberapa puskesmas dan RS di Jogja, termasuk Lab Mikrobiologi FKKMK tempat alat ini diuji coba. Rencananya alat ini akan terus dikembangkan agar bisa bisa diproduksi secara massal.

“Mudah mudahan nanti bisa diproduksi dengan harga yang lebih murah juga sehingga terjangkau dan bisa tersedia di seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan lain di Indonesia,” harapnya.

Sementara anggota peneliti lainnya Dr. Eka Firmansyah dari Fakukltas Teknik UGM mengatakan sterilisasi dengan memanfaatkan sinar ultraviolet-C (UV-C) adalah salah satu metode yang biasa dilakukan untuk melakukan dekontaminasi bakteri atau virus. “Paparan sinar UV dengan dosis yang tepat, tidak berlebihan, dapat mengurangi risiko kerusakan filter masker N95 sehingga lebih aman untuk digunakan secara berulang,” katanya.

Eka menuturkan pihaknya membuat dua desain, jenis pertama yakni dimensi internal 40 cm x 40 cm x 30 cm dan dimensi eksternal 40 cm x 40 cm x 40 cm. Dimensi ini memungkinkan sterilisasi dengan volume 48 liter yang dapat mensterilisasi 9 masker N95. Jenis kedua dengan dimensi eksternal 35 cm x 15 cm x 15 cm dan dimensi eksternal 45 cm x 15 cm x 17 cm. Dimensi ini memiliki bilik sterilisasi dengan kapasitas 7,8 liter yang dapat mensterilkan 3 buah masker N95.

Dikatakan Eka, proses produksi alat UV Box ini tengah dikerjakan oleh perusahaan startup MicroMachina yang didirikan oleh sekelompok mahasiswa Teknik UGM dan juga didukung oleh alumni FK UGM angkatan 1998 dengan mendonasikan beberapa box kepada RS dan puskesmas yang membutuhkan di Yogyakarta. (ugm)