Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memperkuat strategi peningkatan mutu pendidikan dengan menyelenggarakan Asesmen Kesiapan Belajar bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini berlangsung di Hall Ternate, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B, dan dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 4 hingga 8 Mei 2026.
Program ini menjadi langkah awal universitas dalam memetakan kondisi awal mahasiswa sebelum memasuki proses akademik. Direktur Pendidikan UNAIR, Dr. Maftuchah Rochmanti, menjelaskan bahwa asesmen tersebut dirancang untuk memahami karakter, kesiapan, serta potensi mahasiswa secara menyeluruh.
Menurut Dr. Maftuchah, asesmen ini tidak berkaitan dengan proses seleksi atau penentuan kelulusan, melainkan berfungsi sebagai instrumen pemetaan. Seluruh peserta telah resmi diterima sebagai mahasiswa, sehingga fokus kegiatan sepenuhnya diarahkan pada pengumpulan data untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif.
Melalui pendekatan ini, UNAIR berupaya memastikan bahwa setiap mahasiswa mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing. Perbedaan latar belakang akademik maupun psikologis menjadi pertimbangan utama dalam merancang strategi pembelajaran yang adaptif.
Dalam pelaksanaannya, asesmen menggunakan lima instrumen yang terintegrasi dan dikelola oleh Airlangga Assessment Center (AAC). Selain itu, mahasiswa juga mengikuti English Language Proficiency Test (ELPT) untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris sebagai salah satu kompetensi penting dalam dunia akademik.
Hasil dari asesmen tersebut nantinya tidak akan mengubah struktur kurikulum program studi. Namun, data yang diperoleh akan dimanfaatkan sebagai dasar dalam memberikan pendampingan akademik secara lebih personal, terutama melalui peran dosen wali.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efektivitas proses belajar karena mahasiswa tidak hanya mengikuti sistem yang seragam, tetapi juga mendapatkan arahan yang sesuai dengan kebutuhan individu. Pendampingan personal menjadi salah satu kunci dalam memastikan mahasiswa mampu mencapai target akademik secara optimal.
Di sisi lain, UNAIR juga menyiapkan sistem dukungan yang terintegrasi untuk menunjang keberhasilan mahasiswa. Layanan helpdesk tersedia di setiap fakultas guna menangani berbagai kendala akademik maupun administratif. Selain itu, Help Center yang dikelola Direktorat Kemahasiswaan turut berperan dalam memberikan dukungan non-akademik.
Dengan ekosistem pendampingan yang komprehensif, UNAIR berupaya menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga suportif dan inklusif.
Dr. Maftuchah juga menekankan pentingnya kejujuran mahasiswa dalam mengikuti asesmen. Data yang akurat akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah pendampingan yang tepat, sehingga hasilnya dapat benar-benar dirasakan oleh mahasiswa selama menjalani studi.
Melalui program ini, UNAIR menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem pendidikan berbasis data dan kebutuhan individu. Langkah tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi tantangan global. (ita)

