Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengambil langkah inovatif dalam upaya pelestarian sumber daya air dengan mengukuhkan Satgas Mata Air Lawang, Kabupaten Malang. Peresmian tersebut digelar di Hotel OAK Lawang, Sabtu (31/1/2026), dan dirangkaikan dengan pagelaran wayang kulit ringgit purwo klasik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) UNAIR yang menitikberatkan pada pelestarian lingkungan melalui pendekatan budaya dan partisipasi masyarakat lokal.
Pagelaran wayang kulit menghadirkan Ki Triya Handoko, dalang tunanetra asal Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang. Ia membawakan lakon Bodronoyo Mbangun Kerukunan, yang sarat makna tentang gotong royong dan harmoni antara manusia dan alam.
Lakon tersebut dipilih sebagai simbol pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kedaulatan air dan kelestarian mata air. Pagelaran yang berlangsung selama sekitar dua jam itu kemudian dilanjutkan dengan sarasehan bersama masyarakat dan pemangku kepentingan.
Sinergi Akademik dan Aksi Nyata di Lapangan
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Guru Besar Antropologi Ekologi sekaligus Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi UNAIR, memperkenalkan buku terbarunya berjudul Sedhakep Angawe-Awe: Jaringan Sosial Pencurian Kayu Jati dan Tata Kelola Hutan di Jawa.
Melalui kegiatan ini, Prof. Adib menegaskan bahwa pelestarian air dan hutan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi formal. Menurutnya, nilai-nilai budaya, solidaritas sosial, dan kesadaran kolektif masyarakat memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan alam.
Prosesi penyerahan gunungan wayang dari Prof. Adib kepada Ki Triya Handoko menjadi penanda simbolis dimulainya komitmen bersama antara akademisi, praktisi budaya, dan masyarakat Lawang dalam menjaga mata air di wilayah Malang Utara.
Keterlibatan dalang tunanetra dalam kegiatan ini juga menjadi pesan kuat tentang inklusivitas dan pemberdayaan. Kehadirannya merepresentasikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkontribusi dalam menjaga peradaban dan lingkungan hidup.
Model Tata Kelola Air Partisipatif
Melalui pembentukan Satgas Mata Air Lawang, Departemen Antropologi UNAIR berharap dapat menghadirkan model tata kelola sumber daya alam yang partisipatif dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas unsur ini menjadi bukti peran kampus sebagai agen perubahan yang tidak hanya menghasilkan teori akademik, tetapi juga solusi nyata berbasis pendekatan humanis dan kultural.
Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai contoh pelestarian lingkungan yang berakar pada budaya dan kekuatan masyarakat lokal. (tas)

