Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Warisan Budaya Lokal dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Warisan Budaya Lokal dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

SENI BUDAYA redaksi09/09/2019 - 15:00 WIB

“Pengembangan Ekonomi Kreatif Global dan Dampaknya terhadap Kesejahteraan Penduduk” menjadi topik yang diangkat dalam kegiatan ASEAN Regional Workshop on Creative Economy 2019 yang berlangsung di Nusa Dua Bali pada Rabu (4/9).

Di sesi kedua ini peserta membahas berbagai upaya memanfaatkan warisan budaya lokal dalam pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di negaranya.

Perwakilan dari negara anggota ASEAN mempresentasikan perkembangan sektor ekonomi kreatif di negaranya masing-masing.

Guru besar Fakultas Teknik bidang Arsitektur Universitas Indonesia, Paramita Atmodiwirjo yang hadir sebagai pembicara menyampaikan sebuah proyek yang dapat mempromosikan kebudayaan lokal untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat.

Proyek yang disebutnya ‘Tanahku Indonesia’ mengeksplorasi kekayaan material lokal dari Indonesia menggunakan tanah atau batu-batuan. Proyek ini mengumpulkan berbagai jenis tanah dan batuan yang ada di seluruh Indonesia untuk kemudian dikembangkan menjadi alat yang dapat digunakan sehari-hari dengan kualitas yang lebih bagus.

“Meskipun kita sudah ada di zaman modern tetapi hal-hal tradisional tetap akan selalu mempunyai keunikan tersendiri yang dapat dieksplorasi,” ujar Paramita.

Thailand juga menyampaikan bahwa negaranya memiliki proyek untuk mengembangkan ekraf dengan memanfaatkan warisan kekayaan lokal. Mereka mengembangkan produk yang terbuat dari daun pisang dan batang pisang. Batang pisang dikembangkan untuk dapat menjadi pengganti bahan material plastik yang lebih tahan lama dan kuat.

Selain itu Thailand juga berhasil mengembangkan kawasan Charoenkrung sebagai ‘creative district’ dengan membangun workshop, art gallery, dan tempat-tempat untuk berkreativitas lainnya. Sektor ekraf Thailand berhasil menyumbang 9,1% dari jumlah PDB negaranya, dengan sektor kriya menempati tempat tertinggi.

Begitu juga dengan Filipina, dengan pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup pesat, sektor ekonomi kreatif kini menyumbang sebanyak 7 % dari total PDB. Sektor ekraf yang menyumbang paling banyak adalah media (TV, radio, media cetak), hiburan (musik, pertunjukan), dan software. Selain itu, salah satu kota di Filipina yaitu Baguio berhasil mendapat gelar sebagai ‘Creative City’ dari UNESCO.

“Industri kreatif sudah menjadi sektor yang paling dinamis di dunia sepanjang dekade ini, termasuk di Asia. Total ekspor produk kreatif dari negara ASEAN ke mancanegara telah mencapai angka 23 miliar dolar di 2015,” ujar Chief Creative Economy UNCTAD, Marisa Henderson.

Festival Director Joe Sidek asal Malaysia mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekraf dan kesejahteraan adalah dengan mengadakan festival.

Ketika festival yang dibuat sudah berhasil menarik perhatian orang-orang, maka dengan sendirinya akan ada manfaat ekonomi. Akan banyak bermunculan café, restoran, hotel, dan toko di daerah tersebut.

“Kebudayaan, kesenian, dan pariwisata bila disatukan dapat menjadi sumber penghasilan yang besar” imbuhnya. (sak)

Bekraf Warisan Budaya Lokal
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.