Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Waspada Hantavirus, Dosen FKK ITS Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Sanitasi Lingkungan

Waspada Hantavirus, Dosen FKK ITS Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Sanitasi Lingkungan

PERISTIWA Ita Nasyi’ah13/05/2026 - 11:35 WIB
Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS ajak kenali ancaman Hantavirus dan gejalanya

Kemunculan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina memicu perhatian dunia internasional. Sejumlah penumpang kapal tersebut dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut akibat paparan virus yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.

Berdasarkan laporan hingga 4 Mei 2026 waktu setempat, sedikitnya tujuh penumpang mengalami gejala dengan tingkat keparahan berbeda, mulai dari gejala ringan, kondisi kritis, hingga meninggal dunia. Kasus tersebut kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang berpotensi menyebar melalui lingkungan dengan sanitasi kurang baik.

Di Indonesia, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Sejak 2024, tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia telah teridentifikasi. Meski jumlahnya belum tergolong tinggi, penyakit tersebut tetap menjadi perhatian karena memiliki risiko fatalitas dan penularan yang tidak dapat dianggap sepele.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Zulistian Nurul Hidayati, dr. SpPD, menjelaskan bahwa hantavirus memiliki pola penularan yang khas karena berasal dari hewan pengerat, terutama tikus.

Menurutnya, manusia dapat terinfeksi melalui udara yang telah terkontaminasi partikel dari kotoran atau urine tikus. Selain itu, penularan juga dapat terjadi akibat kontak langsung dengan hewan pengerat maupun lingkungan yang tercemar.

“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel dari kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” ujar Zulistian, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa gejala awal hantavirus kerap sulit dikenali karena menyerupai penyakit umum seperti flu biasa. Penderita biasanya mengalami demam, batuk, pilek, nyeri otot, hingga tubuh terasa lemas. Kondisi tersebut membuat hantavirus tidak dapat diidentifikasi hanya melalui pemeriksaan gejala klinis semata.

Karena itu, diperlukan pemeriksaan laboratorium sebagai penunjang diagnosis untuk memastikan adanya infeksi virus tersebut.

“Tidak bisa hanya berdasarkan gejala klinis. Perlu pemeriksaan diagnostik tambahan melalui laboratorium agar dapat dipastikan,” jelasnya.

Zulistian mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada apabila gejala awal disertai penurunan kondisi tubuh secara mendadak, terutama jika muncul gangguan pernapasan akut. Sebab, hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi serius yang membahayakan nyawa pasien.

Ia menjelaskan, terdapat dua komplikasi utama akibat infeksi hantavirus. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni sindrom gangguan paru dan pernapasan akut yang dapat berkembang cepat. Kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah yang disertai gangguan ginjal akut.

Menurut Zulistian, hingga saat ini terdapat lebih dari 40 jenis hantavirus yang telah dikenali. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 varian diketahui bersifat patogenik atau dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan sanitasi lingkungan yang buruk disebut memiliki risiko lebih besar terhadap pertumbuhan dan penyebaran virus. Oleh sebab itu, pengendalian populasi tikus serta kebersihan lingkungan menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Meski demikian, Zulistian menegaskan bahwa karakter penyebaran hantavirus berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar secara masif antar manusia. Penularan hantavirus lebih banyak berkaitan dengan paparan lingkungan yang tercemar oleh hewan pengerat.

Karena itu, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah preventif sederhana di lingkungan rumah maupun tempat kerja.

Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain menjaga kebersihan rumah, memastikan sanitasi lingkungan tetap baik, membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus, serta menggunakan alat pelindung diri ketika membersihkan kotoran hewan pengerat.

“Beberapa langkah perlindungan dapat dilakukan dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” ungkapnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan serius, terutama setelah kontak dengan area yang diduga terkontaminasi tikus.

Kewaspadaan dini dinilai penting untuk mencegah risiko komplikasi yang lebih berat sekaligus meningkatkan peluang penanganan medis secara cepat dan tepat. (ita)

FKK ITS gejala hantavirus hantavirus ITS kesehatan masyarakat penyakit zoonosis sanitasi lingkungan virus dari tikus
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.