50 emiten menggelar pemaparan publik melalui aplikasi Zoom dalam ajang Public Expose Live 2020 selama 24-28 Agustus 2020 yang digelar Bursa Efek Indonesia (BEI).
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, setiap perusahaan tercatat wajib menyelenggarakan pemaparan publik sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.
Hal ini mendorong BEI untuk memfasilitasi pemaparan mengenai perkembangan terkini perusahaan antara manajemen dengan investor. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan pemahaman investor terhadap kinerja emiten-emiten di BEI.
“Semoga informasi terkini yang diakses oleh masyarakat luas dapat meningkatkan kepercayaan terhadap investasi di pasar modal, kemudian berdampak terhadap likuiditas pasar dan jumlah investor” jelas dia saat pembukaan Public Expose Live 2020 secara virtual, Senin (24/08).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan, pihaknya mengapresiasi BEI, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang telah konsisten menyelenggarakan public expoxe live sejak 2017.
Saat pandemi, kegiatan ini menjadi sangat relevan karena pembatasan interaksi sosial membuat kegiatan publik ekspos harus memanfaatkan teknologi. Transparansi mengenai kinerja emiten juga menjadi penting.
Hal ini mengingat pandemi Covid-19 berdampak terhadap perlambatan ekonomi secara makro dan turunnya kinerja emiten di berbagai sektor.
“Sebagai informasi, laporan kinerja emiten kuartal I-2020 menunjukkan perlambatan, meskipun sebagian besar atau hampir 65% masih membukukan laba, namun secara umum kinerjanya turun,” jelas dia.
Tak hanya di Indonesia, kata Hoesen, tekanan kinerja pun dialami oleh hampir seluruh perusahan global. Berbagai kondisi tersebut tentu menjadi perhatian investor di pasar modal Indonesia.
Sehingga, kegiatan pemaparan publik menjadi alat bagi perusahaan menjelaskan kepada publik mengenai perkembangan dan aksi korporasi yang akan dilakukan.
Pemaparan publik juga menjadi sarana perlindungan investor dari informasi menyesatkan, yang bukan dari manajemen perusahaan.
Di tengah kondisi pasar modal yang penuh tekanan saat ini, kegiatan pemaparan publik menjadi kesemapatan bagi perusahaan menjelaskan rencana ke depan untuk mempertahankan kinerja. “Sehingga kepercayaan investor dalam berinvestasi kepada saham perusahaan dapat terjaga dengan baik,” jelas dia.
OJK bersama SRO pun berkomitmen terus memperhatikan dampak pandemi dengan seksama. OJK berupaya melakukan berbagai terobosan dan relaksasi dalam meringankan beban perusahaan tercatat. (ist)

