Fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid, pertumbuhan investor domestik, dan reformasi transparansi pasar modal memperkuat daya tarik investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Arsip Artikel Bursa Efek Indonesia
ETF Emas segera meluncur di pasar modal Indonesia sebagai instrumen investasi baru berbasis emas. Produk ini menawarkan kemudahan transaksi di Bursa Efek Indonesia sekaligus menjadi alternatif diversifikasi portofolio bagi investor.
BEI bersama Anggota Bursa terus memperkuat implementasi Liquidity Provider Saham untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi perdagangan, dan daya tarik pasar modal Indonesia.
BEI meluncurkan program Awak Pesawat Investor Saham bersama sejumlah maskapai untuk memperluas literasi investasi dan ketahanan finansial pekerja aviasi.
Produk investasi ETF dinilai cocok untuk investor pemula karena lebih likuid, transparan, dan memiliki risiko yang tersebar dalam satu paket aset.
OJK, BEI, dan KSEI percepat reformasi pasar modal lewat transparansi data dan peningkatan likuiditas untuk menarik investor global.
BEI fokus kembangkan pasar modal syariah. Investor tembus 207 ribu per Juni 2025, kapitalisasi capai Rp8.851 triliun.
BEI bersama OJK menyesuaikan aturan pencatatan saham, termasuk menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen mulai Maret 2026.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri efektif 30 Januari 2026 sebagai bentuk tanggung jawab atas trading halt 28–29 Januari.
IHSG turun hingga 8 persen, BEI memberlakukan pembekuan sementara perdagangan saham (trading halt) untuk menjaga stabilitas pasar modal.
