Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Kisah Haru Ibu Anis, Dampingi Anak Sakit Demi Wujudkan Mimpi Masuk Psikologi UNAIR
  • Demi Menjadi Ahli Gizi, Mahasiswi Asal Kalimantan Utara Rela Lepas Status Kuliah di Semarang demi UNAIR
  • Kuatkan Tekad, Siswi Ini Rela Tempuh Perjalanan Udara Demi Masuk FK UNAIR
  • Porwanas XV Makin Siap, SIWO PWI Lampung Terapkan Verifikasi Atlet Berbasis Barcode
  • Burung hingga Kucing Bakau Jadi Bukti Ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya Tetap Terjaga
  • Demi Mimpi Masuk FK UNAIR, Siswa SMA Ini Rela Tinggalkan Kursi Kuliah yang Sudah Diraih
  • Tembus 6.335 Pendaftar, Mandiri UNAIR Jadi Pilihan Ribuan Calon Mahasiswa
  • Berdiskusi dengan Ketua PWI Jatim, Kepala Bakorwil Malang Ajak Perkuat Narasi Pengembangan Potensi Selatan Jatim Menuju Malang Megapolitan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»JALAN-JALAN»Desa Wisata Perlu Co-Working Space

Desa Wisata Perlu Co-Working Space

JALAN-JALAN redaksi14/02/2022 - 16:00 WIB

Pemerintah Provinsi Jatim mencanangkan pengembangan industri pariwisata. Salah satunya, mengembangkan desa wisata baru di bawah BUMDes. Pakar Pariwisata Universitas Airlangga (UNAIR) Novianto Edi Suharno SST PAR MSI menyebut perlu adanya penyesuaian dan perhatian terhadap beberapa hal.

Pengembangan desa wisata tidak memakan biaya yang tinggi karena beberapa sumber daya telah tersedia di sana. Desa wisata itu nantinya membentuk model pemberdayaan masyarakat atau dikenal sebagai CBT (Community Based Tourism).

“Untuk mewujudkannya, perlu dikenali terlebih dahulu potensi desa. Komitmen bersama antar elemen di dalamnya (BUMDes dan masyarakat desa, red) juga diperlukan. Sehingga akan berdampak pada pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism,” ujarnya.

Menurut Wakil Dekan 3 Fakultas Vokasi UNAIR itu, desa wisata perlu mempertimbangkan sarana. Di antaranya, akomodasi, makan dan minum, serta angkutan wisata. Termasuk diperlukan kemudahan akses dan transportasi.

Dalam mempertahankan sektor pariwisata pada masa pandemi tersebut Anto merekomendasikan tiga langkah. Yaitu, adaptasi, inovasi, dan kolaborasi.

“Adaptasi ini dapat diterapkan pada layanan makan dan minum yang telah banyak menerapkan pelayanan pesan-antar,” tuturnya.

Anto menambahkan, layanan pesan-antar membutuhkan suatu keterampilan khusus. Misalnya, dalam mendesain bungkus makanan yang sesuai dengan produk.

“Inovasi dibutuhkan dalam pelayanan pariwisata sendiri, termasuk pemasaran. Saat ini semua berbasis digital. Pengelola harus dapat memasarkan wisatanya dengan basis digital agar lebih meluas,” terangnya.

Inovasi juga sangat diperlukan dalam produk wisata. Pengelola tempat wisata perlu melakukan pembaharuan kegiatan-kegiatan di desa. Dengan begitu, wisatawan dapat menikmati dan tidak bosan menyaksikan kegiatan tersebut.

“Saat ini kan masih WFH (Work From Home), jadi bisa dibuat inovasi tempat semacam coworking space di desa wisata. Sehingga wisatawan dapat bekerja dari desa atau WFD,” tuturnya.

Selain itu, keinginan berlibur tanpa banyak bertemu dengan orang lain mengubah tren layanan paket wisata. Anto menyampaikan, para pelaku industri pariwisata harus mulai berinovasi memberikan layanan paket wisata eksklusif atau kelompok kecil. Agar wisatawan merasa lebih aman dan mengurangi potensi penularan virus saat liburan.

“Wisatawan dan pengelola tentu harus mentaati dan menjalankan aturan yang sudah ada. Saat ini pengelola tempat wisata dan tempat makan telah banyak memiliki sertifikasi CHSE, yaitu standar protokol kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan. Ini merupakan cara untuk sektor pariwisata tetap berjalan,” terangnya.

Kolaborasi juga perlu dilakukan oleh seluruh elemen. Tujuannya, mencapai satu pengembangan desa wisata CEMARA (Cerdas, Mandiri dan Sejahtera) di daerah Jatim. “Komitmen semua pihak sangat diperlukan untuk bersinergi dan berinovasi untuk Jatim bangkit,” tuturnya. (ita)

Desa Wisata Perlu Co-Working Space
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Demi Menjadi Ahli Gizi, Mahasiswi Asal Kalimantan Utara Rela Lepas Status Kuliah di Semarang demi UNAIR

27/06/2026 - 18:41 WIB

Kuatkan Tekad, Siswi Ini Rela Tempuh Perjalanan Udara Demi Masuk FK UNAIR

27/06/2026 - 18:36 WIB

Porwanas XV Makin Siap, SIWO PWI Lampung Terapkan Verifikasi Atlet Berbasis Barcode

27/06/2026 - 10:26 WIB

Burung hingga Kucing Bakau Jadi Bukti Ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya Tetap Terjaga

26/06/2026 - 17:38 WIB

Demi Mimpi Masuk FK UNAIR, Siswa SMA Ini Rela Tinggalkan Kursi Kuliah yang Sudah Diraih

26/06/2026 - 17:33 WIB

Tembus 6.335 Pendaftar, Mandiri UNAIR Jadi Pilihan Ribuan Calon Mahasiswa

26/06/2026 - 17:24 WIB

Comments are closed.

Kisah Haru Ibu Anis, Dampingi Anak Sakit Demi Wujudkan Mimpi Masuk Psikologi UNAIR

27/06/2026 - 18:56 WIB

Demi Menjadi Ahli Gizi, Mahasiswi Asal Kalimantan Utara Rela Lepas Status Kuliah di Semarang demi UNAIR

27/06/2026 - 18:41 WIB

Kuatkan Tekad, Siswi Ini Rela Tempuh Perjalanan Udara Demi Masuk FK UNAIR

27/06/2026 - 18:36 WIB

Porwanas XV Makin Siap, SIWO PWI Lampung Terapkan Verifikasi Atlet Berbasis Barcode

27/06/2026 - 10:26 WIB

Burung hingga Kucing Bakau Jadi Bukti Ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya Tetap Terjaga

26/06/2026 - 17:38 WIB

Demi Mimpi Masuk FK UNAIR, Siswa SMA Ini Rela Tinggalkan Kursi Kuliah yang Sudah Diraih

26/06/2026 - 17:33 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.