Di tengah ketatnya persaingan seleksi jalur mandiri perguruan tinggi, terdapat cerita tentang perjuangan dan dukungan keluarga yang menjadi penyemangat bagi para peserta. Salah satunya datang dari Ibu Anis, seorang ibu asal Denpasar, Bali, yang mendampingi putri semata wayangnya mengikuti Ujian Mandiri Universitas Airlangga (UNAIR) demi mewujudkan impian masuk Program Studi Psikologi.
Perjalanan menuju ruang ujian telah dipersiapkan dengan matang. Demi memastikan putrinya dapat mengikuti ujian dalam kondisi tenang dan tanpa terburu-buru, Ibu Anis bersama anaknya memilih berangkat ke Surabaya satu hari sebelum pelaksanaan ujian menggunakan transportasi udara.
Setibanya di Surabaya, mereka langsung menuju penginapan dan memanfaatkan waktu untuk melakukan survei lokasi ujian di lingkungan kampus pada sore hari. Langkah tersebut dilakukan agar proses menuju ruang ujian pada hari pelaksanaan dapat berjalan lebih lancar.
“Kemarin saya sempat survei lokasi ujian terlebih dahulu supaya tidak bingung mencari tempat saat tes,” ujar Ibu Anis.
Namun, persiapan yang telah dilakukan ternyata dihadapkan pada situasi yang tidak terduga. Pada malam sebelum ujian berlangsung, putrinya mengalami gangguan kesehatan berupa sakit perut disertai demam tinggi hingga tubuhnya menggigil.
Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran karena terjadi tepat menjelang pelaksanaan ujian yang telah dipersiapkan sejak lama. Meski demikian, putrinya tetap bertekad mengikuti seleksi dan berusaha mempertahankan kondisi fisik agar dapat menyelesaikan ujian.
Ibu Anis mengatakan bahwa dirinya berusaha memberikan dukungan dan ketenangan kepada sang anak agar tetap fokus menghadapi ujian.
“Saya bilang kepada anak saya untuk kuat menghadapi ujian demi cita-cita dan impiannya. Ditahan dulu sakitnya,” ungkapnya.
Tidak hanya memberikan dukungan secara emosional, Ibu Anis juga segera mencari kebutuhan yang diperlukan untuk membantu pemulihan kondisi putrinya. Ia berupaya mencari apotek dan minimarket di sekitar kawasan kampus agar obat dapat segera diperoleh dan dikonsumsi setelah pelaksanaan ujian selesai.
Menurut Ibu Anis, ketertarikan putrinya terhadap Psikologi UNAIR bukan keputusan yang muncul dalam waktu singkat. Minat tersebut telah dibangun sejak lama dan dibarengi dengan berbagai bentuk persiapan.
Ia menceritakan bahwa putrinya telah aktif mengikuti bimbingan belajar sejak awal kelas XII SMA untuk mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi masuk perguruan tinggi.
Bahkan sebelumnya, sang putri juga pernah secara mandiri mengikuti olimpiade psikologi yang diselenggarakan oleh UNAIR. Pengalaman tersebut dimanfaatkan untuk mengenal suasana kampus sekaligus memahami karakteristik materi dan pola seleksi yang dihadapi.
Perjalanan menuju Psikologi UNAIR juga telah ditempuh melalui beberapa jalur seleksi. Sebelum mengikuti jalur mandiri, putri Ibu Anis diketahui telah mencoba masuk melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan pilihan program studi yang sama.
Meski belum berhasil pada dua kesempatan sebelumnya, hal tersebut tidak menghentikan upayanya untuk kembali mencoba melalui jalur Mandiri.
Bagi Ibu Anis, perjuangan yang telah dilakukan putrinya menjadi alasan untuk terus memberikan dukungan tanpa syarat. Ia menilai sang anak telah berusaha secara maksimal dan hasil akhir menjadi bagian dari proses yang perlu diterima dengan lapang.
“Dia sudah berusaha maksimal. Saya lihat usahanya luar biasa. Selebihnya kami serahkan kepada Tuhan. Dukungan dari kami sebagai orang tua juga sudah maksimal, baik doa maupun materi,” tuturnya.
Kisah Ibu Anis dan putrinya menjadi gambaran bahwa di balik proses seleksi perguruan tinggi, terdapat kerja keras, pengorbanan, dan dukungan keluarga yang berjalan beriringan. Tidak hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang keteguhan untuk tetap melangkah meski dihadapkan pada tantangan di saat-saat penting menuju impian. (ita)

