Akses terhadap pertolongan pertama saat terjadi kondisi darurat medis masih menjadi tantangan bagi penyandang disabilitas netra. Keterbatasan dalam mengidentifikasi lokasi maupun tingkat keparahan luka secara mandiri kerap membuat proses penanganan awal menjadi lebih sulit, terutama ketika tidak ada pendamping di sekitar.
Berangkat dari kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan NyxAId, sebuah sistem assistive first aid berbasis aplikasi mobile dan kacamata pintar yang terintegrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Inovasi tersebut berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026.
Pengembangan NyxAId digagas oleh Gressendy Zahwarani, Hannah Icasia Illine, Zalfa Zahira Febriyani, Shafrie Alvito Wimala Rasendrya, dan Muhammad Bariq Azka. Melalui platform ini, tim berupaya menghadirkan solusi yang dapat membantu penyandang tunanetra memperoleh akses pertolongan pertama secara lebih cepat, mandiri, dan inklusif.
Ketua tim, Gressendy Zahwarani, menjelaskan bahwa NyxAId dirancang sebagai ekosistem digital yang menggabungkan perangkat kacamata pintar dan aplikasi mobile untuk mendeteksi cedera fisik serta memberikan panduan penanganan awal. Teknologi tersebut memanfaatkan kemampuan visual perangkat pintar untuk mengenali kondisi luka yang tidak dapat dilihat langsung oleh pengguna tunanetra.
Menurutnya, selama ini pengembangan teknologi bantu bagi penyandang disabilitas netra lebih banyak difokuskan pada aspek mobilitas dan navigasi. Padahal, kebutuhan akan akses pertolongan pertama dalam situasi darurat juga menjadi persoalan yang memerlukan perhatian khusus.
Gagasan pengembangan NyxAId muncul dari pengamatan para anggota tim terhadap aktivitas penyandang tunanetra di ruang publik. Mereka menilai risiko cedera akibat terjatuh atau kecelakaan ringan dapat meningkat ketika seseorang berada sendirian tanpa bantuan orang lain di lokasi kejadian.
Melalui sistem yang dikembangkan, kacamata pintar berfungsi sebagai alat pemindai kondisi fisik pengguna. Data hasil pemindaian kemudian diproses oleh aplikasi yang mampu mengidentifikasi letak luka dan memberikan rekomendasi tindakan pertolongan pertama sesuai kondisi yang terdeteksi.
Salah satu keunggulan utama NyxAId terletak pada integrasi teknologi Large Language Model-Retrieval Augmented Generation (LLM-RAG). Teknologi ini memungkinkan interaksi dua arah berbasis audio sehingga pengguna dapat memperoleh informasi medis secara lebih mudah tanpa harus mengakses tampilan visual.
Melalui sistem AI-RAG yang telah dirancang dengan basis informasi medis terverifikasi, pengguna dapat memanfaatkan sejumlah fitur seperti pemindai luka, panduan suara pertolongan pertama, hingga layanan percakapan interaktif yang membantu menjelaskan langkah penanganan sesuai jenis cedera yang dialami.
Penggunaan teknologi audio dinilai penting karena setiap jenis luka memerlukan tindakan yang berbeda. Dengan panduan yang disampaikan secara langsung melalui suara, penyandang tunanetra dapat memperoleh arahan yang lebih cepat ketika menghadapi situasi darurat.
Tidak hanya mendukung penanganan mandiri, NyxAId juga dilengkapi fitur panggilan darurat. Ketika sistem mendeteksi kondisi yang membutuhkan bantuan lebih lanjut atau pengguna tidak memungkinkan melakukan penanganan sendiri, aplikasi dapat menghubungkan pengguna dengan keluarga maupun fasilitas kesehatan terdekat.
Tim pengembang berharap inovasi tersebut dapat meningkatkan keamanan, keselamatan, dan kemandirian medis penyandang disabilitas netra, khususnya saat beraktivitas di ruang publik. Ke depan, NyxAId diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih luas dalam mendukung akses kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM 2026 menjadi langkah awal bagi pengembangan teknologi tersebut menuju implementasi yang lebih matang. Jika berhasil direalisasikan secara optimal, NyxAId berpotensi menjadi salah satu inovasi teknologi kesehatan yang memberikan dampak nyata bagi kelompok disabilitas di Indonesia. (ita)

