Perkembangan data yang berlangsung sangat cepat, perubahan perilaku manusia, hingga meningkatnya ancaman siber mendorong teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk terus berevolusi. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Ir Ary Mazharuddin Shiddiqi SKom MCompSc PhD, memperkenalkan konsep AI adaptif berbasis continual learning sebagai fondasi sistem cerdas masa depan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah bertajuk “Kecerdasan Artifisial Adaptif sebagai Fondasi Sistem Cerdas Masa Depan”. Dalam pemaparannya, Ary menegaskan bahwa AI tidak lagi dapat mengandalkan model pembelajaran yang bersifat statis. Sistem kecerdasan artifisial harus mampu mempelajari data dan pengalaman baru secara berkelanjutan agar tetap relevan dengan dinamika lingkungan yang terus berubah.
Menurut Ary, kemampuan beradaptasi menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan teknologi AI. Tanpa mekanisme pembelajaran yang berkesinambungan, sistem AI berisiko kehilangan relevansi dan tertinggal oleh perubahan yang terjadi di dunia nyata.
Konsep continual learning yang diusung Ary mengadopsi cara manusia memperoleh pengetahuan sepanjang hidup. Melalui pendekatan ini, AI dirancang untuk dapat menyerap informasi baru tanpa menghilangkan kemampuan memahami pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem cerdas yang lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan.
Meski demikian, pengembangan continual learning masih menghadapi tantangan besar berupa fenomena catastrophic forgetting. Kondisi ini terjadi ketika model AI berhasil mempelajari informasi baru, tetapi pada saat yang sama kehilangan kemampuan mengenali atau mengingat pengetahuan lama yang sebelumnya telah dikuasai.
Sebagai solusi atas tantangan tersebut, Guru Besar ke-238 ITS itu mengembangkan Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka kerja ini dirancang melalui lima tahapan utama, yakni observe, learn, remember, adapt, dan act. Melalui mekanisme tersebut, sistem AI diharapkan mampu mengamati perubahan data, mempelajari informasi baru, mempertahankan pengetahuan lama, beradaptasi terhadap kondisi terkini, dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
Dalam pengembangannya, Ary juga memperkenalkan tiga arah riset strategis yang menjadi fokus AI adaptif, yaitu adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure. Ketiga bidang tersebut mencakup penguatan deteksi intrusi siber, identifikasi anomali jaringan, pengelolaan klaster AI secara dinamis, hingga optimalisasi penempatan sensor pada infrastruktur kritis.
Penerapan konsep tersebut diwujudkan melalui sejumlah inovasi teknologi. Salah satunya adalah FusionNet-FR, arsitektur transformer DualNet yang menggabungkan frequency modeling dan relational learning untuk meningkatkan akurasi peramalan deret waktu jangka panjang. Selain itu, Ary juga mengembangkan SPARC, sebuah strategi penempatan sensor yang dirancang untuk mendeteksi risiko kontaminasi pada jaringan distribusi air.
Riset AI adaptif yang dikembangkannya turut diperkuat melalui DiLLeMa sebagai kerangka kerja distributed large models serta CloudX-Lab yang berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi pengembangan infrastruktur AI adaptif. Platform tersebut mengintegrasikan GPU nodes, CPU nodes, dan edge nodes dalam satu ekosistem yang mendukung dynamic scheduling, load balancing, auto scaling, fault tolerance, serta efisiensi penggunaan sumber daya komputasi.
Ary menilai pengembangan AI adaptif memiliki potensi besar dalam mendukung berbagai agenda strategis nasional. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan siber, mempercepat transformasi digital, meningkatkan kemandirian teknologi AI nasional, sekaligus mendorong lahirnya sumber daya manusia unggul di bidang teknologi.
Ia juga menekankan pentingnya peran Indonesia sebagai pengembang teknologi, bukan sekadar pengguna. Menurutnya, penguasaan dan pengembangan AI yang sesuai dengan kebutuhan lokal menjadi langkah penting untuk mewujudkan kedaulatan teknologi di masa depan.
Selain aspek teknologi, Ary mengingatkan pentingnya penerapan prinsip etika dalam pengembangan AI. Ia menegaskan bahwa kecerdasan artifisial seharusnya berfungsi sebagai alat bantu yang mendukung manusia dalam menghasilkan pengetahuan dan mengambil keputusan, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Menutup orasi ilmiahnya, Ary menyampaikan komitmennya untuk terus mengembangkan riset continual learning dan AI adaptif agar memberikan manfaat nyata bagi sivitas akademika ITS maupun masyarakat Indonesia secara luas. Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi kontribusi strategis dalam membangun ekosistem teknologi yang lebih tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.
Gagasan AI adaptif yang dikembangkan Ary juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas, Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta Tujuan 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. (ita)

