Peringatan Hari Demam Berdarah Dengue (DBD) ASEAN 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan kasus dengue yang masih menjadi ancaman serius di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, para ahli menilai faktor cuaca ekstrem berkontribusi besar terhadap meningkatnya penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Pakar Imunologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si., menyebut bahwa perubahan pola iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi perkembangan nyamuk pembawa virus dengue. Peningkatan suhu udara, tingginya curah hujan, serta musim hujan yang berlangsung lebih lama membuat habitat nyamuk semakin luas dan meningkatkan peluang penyebaran penyakit.
Menurut Agung, kondisi tersebut tidak hanya memperluas wilayah persebaran nyamuk, tetapi juga memperpanjang usia hidup serangga tersebut. Akibatnya, risiko penularan virus dengue kepada manusia menjadi lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Ia menjelaskan bahwa fenomena ini menjadi tantangan baru bagi negara-negara ASEAN yang selama ini telah berupaya menekan angka kasus demam berdarah. Dengan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, strategi pengendalian penyakit juga harus beradaptasi agar tetap efektif.
Di tengah ancaman tersebut, dunia medis terus mengembangkan berbagai inovasi untuk menekan penyebaran dengue. Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian luas adalah pemanfaatan teknologi nyamuk ber-Wolbachia. Wolbachia merupakan bakteri alami yang dapat hidup berdampingan dengan nyamuk Aedes dan terbukti mampu menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh serangga tersebut.
Dr. Agung menjelaskan bahwa keberadaan Wolbachia membantu meningkatkan respons imun pada nyamuk sehingga virus dengue lebih sulit berkembang. Selain itu, bakteri tersebut juga memengaruhi kemampuan reproduksi nyamuk melalui mekanisme yang dapat menurunkan keberhasilan penetasan telur pada kondisi tertentu.
Efektivitas metode ini telah terlihat dalam sejumlah penelitian dan implementasi lapangan. Salah satu contoh yang banyak dirujuk adalah program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta yang berhasil menurunkan angka kasus DBD hingga sekitar 77 persen serta mengurangi kebutuhan rawat inap akibat infeksi dengue secara signifikan. Para peneliti juga menegaskan bahwa bakteri Wolbachia tidak berbahaya bagi manusia sehingga aman digunakan sebagai bagian dari strategi pengendalian vektor.
Selain peningkatan jumlah kasus, perkembangan penyakit dengue juga menunjukkan tantangan baru dari sisi manifestasi klinis. Jika selama ini DBD lebih dikenal karena menyebabkan kebocoran pembuluh darah dan penurunan jumlah trombosit, kini sejumlah kasus menunjukkan dampak yang lebih luas terhadap organ tubuh.
Menurut Agung, infeksi dengue dapat memicu peningkatan enzim hati dalam jumlah besar dan pada kondisi tertentu menyerang sistem saraf, khususnya pada anak-anak. Beberapa penelitian bahkan menemukan kasus yang berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan pada otak akibat infeksi virus dengue.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dengue bukan lagi penyakit yang dapat dipandang sederhana. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang cepat menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Sebagai langkah jangka panjang, Dr. Agung menilai pengembangan vaksin dengue harus terus diperkuat. Namun, vaksin yang dikembangkan harus mampu memberikan perlindungan optimal tanpa memicu risiko Antibody Dependent Enhancement (ADE), yaitu kondisi ketika respons antibodi justru memperparah infeksi.
Selain vaksinasi, strategi pengendalian dengue perlu dilakukan secara terpadu melalui kombinasi inovasi Wolbachia, pemberantasan sarang nyamuk, serta edukasi masyarakat yang lebih komprehensif. Menurutnya, kampanye kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada gerakan 3M Plus, tetapi juga perlu mendorong pemahaman masyarakat mengenai gejala awal dengue, pentingnya deteksi dini, serta tata laksana yang terintegrasi mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan.
Peringatan Hari DBD ASEAN 2026 menjadi pengingat bahwa ancaman dengue masih membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak. Di tengah cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim, sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka kasus maupun kematian akibat demam berdarah di Indonesia. (ita)

