Ditengah kondisi ekonomi dan politik yang tidak menentu, pasar modal Indonesia justru menunjukkan ‘tajinya’.
Hal itu disampaikan Cita Melisa, Kepala Wilayah Jawa Timur PT Bursa Efek Indonesia (BEI), falam acara media gathering yang diselenggarakan, selasa (21/10) di sebuah hotel berbintang kawasan Surabaya Timur.
“Mungkin karena pak menteri keuangannya lagi viral itu ya, yang bikin pengaruh positif pasar modal kita,” katanya sembari tertawa.
Tercatat, investor saham aktif mencapai 7,9 juta dari jumlah investor domestik diangka 18,9 juta orang.
Dari data yang disampaikan, BEI mencatat anak muda sangat mendominasi. Setidaknya ada 54,12% yang aktif berburu cuan dengan usia dibawah 30 tahun. Ini menandakan, anak muda saat ini rajin berselancar di dunia pasar modal.
Menurut Cita -panggilan akrabnya- terdapat 56 emiten berdomisili di Jawa Timur dan 50 perusahaan sekuritas. Setidaknya lebih dari 2 juta investor asal Jawa Timur yang aktif melakukan transaksi.
Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur paling aktif melakukan transaksi. Nilainya mencapai Rp 327,29 triliun. Kedua diduduki Malang dengan transaksi Rp 49, 21 triliun. Disusul Sidoarjo Rp 36,60 triliun. Kemudian Kota Mojokerto Rp 11,51 triliun. “Hingga Agustus 2025 ivestor Jatim menyumbang Rp 533,16 triliun,” tambahnya dengan wajah sumringah.
Sukses raihan jumlah investor tak lepas dari berbagai strategi edukasi yang dilakukan secara masif. Tentu karena sasarannya berbeda, Cita dan tim BEI merancang program literasi yang disesuaikan dengan masing-masing golongan.
Misalkan, untuk membidik mahasiswa tentu berbeda strateginya dengan program yang dikembangkan untuk masyarakat umum. Begitu juga untuk pelajar yang sudah memiliki KTP, komunitas, profesional hingga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Saat ini para ASN mulai Sekretaris Daerah (Setda) hingga eselon paling rendah banyak yang aktif bertransaksi jika jam-jam istirahat.
Istilah untuk para komunitaspun dibuat semenarik mungkin.
Diantaranya, Mabar Ceria akronim dari (Mahasiswa Baru Cerdas Investasi dan Literasi Keuangan). Sesuai namanya, sarannya tentu mahasiswa baru misalkan Unesa dan UIN Malang.
TIMNAS kepanjangan (Tingkatkan Manfaat Investasi dan Literasi untuk ASN). Selain memberi edukasi mengelola pendapatan para ASN secara bijak, juga membekali ASN pengetahuan investasi bodong.
Ada juga istilah BERKAH (Belajar Investasi untuk Karyawan Perusahaan Tercatat). Program ini diperuntukkan karyawan perusahaan publik. Diantaranya Bank Jatim Tbk (BJTM), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dan PT Benteng Api Technic Tbk (BATR).
Juga ada JELITA (Jelajah Literasi Keuangan Jawa Timur), program unggulan ini difokuskan pada ivestasi syariah untuk konunitas keagamaan kalangan muda. Seperti Ansor dan Banser.
Dipaparkan, pihaknya ingin membangun masyarakat melek investasi yang tidak sekedar ikutan tren semata. Tapi, lebih pada tahu manfaat dan resikonya. “Literasi keuangan itu kuncinya,” tegas Cita berapi-api.
Ditambahkan, jika peran perguruan tinggi, perusahaan terbatas hingga komunitas menjadi pilar penting dalam membangun ekosistem investasi. (ita)
