Dosen Vokasi Unair Raih Rekor MURI
KESEHATAN PERISTIWA

Dosen Vokasi Unair Raih Rekor MURI

Dosen Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Purwati dr SpPD K PTI FINASIM menerima apresiasi rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penerima Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak di bidang Stem Cell atau sel punca.

Dokter Pur, panggilan akrabnya, tercatat memperoleh sejumlah hak cipta dan paten dalam kurun waktu September 2018 hingga Oktober 2019.

Dalam kurun waktu satu tahun itu, dosen yang menjabat sebagai Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell UNAIR tersebut mendapatkan empat paten mandiri, satu paten bersama, satu paten sederhana, dan tiga hak cipta mandiri.

Dosen asal Jombang itu diketahui telah meneliti sel punca sejak tahun 2008 silam. “Menurut saya menarik, karena merupakan teknologi baru dari biomedical therapy di bidang medis, sehingga tantangannya lumayan besar untuk dikembangkan,” sebutnya pada Jumat (08/07).

Baginya, konsep sel punca menunjukan ketauhidan Allah SWT, dimana semua bermula dari Yang Satu dan Awal. Bila diperhatikan, hierarki sel punca paling tinggi bersifat totipotent yang kemudian berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi turunan-turunannya.

“Pada akhirnya membentuk milyaran sel berupa jaringan dan organ hingga tubuh yang utuh. Stem cell tersebut mempunyai kemampuan istimewa untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (self regenerate) dan berbiak sesuai dengan garisnya,” jelasnya.

Menurutnya, pengembangan riset dan penyelenggaraan sel punca di Indonesia tidak kalah dibandingkan di luar negeri. “Selain diketahui melalui berbagai publikasi internasional maupun nasional, dapat juga diketahui melalui penetapan HKI,” jelasnya.

Pengembangan stem cell di Indonesia tak lepas dari pusat penelitian dan pengembangan yang terus melakukan riset stem cell dan modifikasinya, serta turut berupaya membangun jejaring dengan institusi secara nasional maupun internasional.

Ke depannya, dokter Purwati akan terus melakukan penelitian dan pengembangan terhadap inovasi dan pemanfaatan sel punca. “InsyaAllah kita akan memadukan secara hybrid antara engineering, nanotechnology dan Stem Cell menjadi next generation of stem cell,” jelasnya

Dokter Pur berharap, hasil riset yang di antaranya telah diakui sebagai kekayaan intelektual mampu memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya.

“Semoga dapat memberikan manfaat di dunia kesehatan baik untuk pasien maupun untuk dokter dan fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan, dan pelayanan Stem Cell diharapkan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” sebutnya. (ita)