Produk investasi di pasar modal terus berkembang dan menawarkan berbagai pilihan bagi masyarakat. Jika selama ini saham dan reksa dana menjadi instrumen yang paling dikenal investor, terdapat produk lain yang juga mulai menarik perhatian, khususnya di kalangan investor muda dan pemula, yakni Exchange Traded Fund atau ETF.
ETF merupakan produk investasi yang diperdagangkan di bursa efek layaknya saham. Instrumen ini menggabungkan konsep reksa dana dengan mekanisme perdagangan saham sehingga dinilai lebih fleksibel dan mudah diakses oleh investor ritel.
Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Timur, Cita Mellisa, menjelaskan bahwa ETF memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan reksa dana. Namun, perbedaannya terletak pada sistem perdagangan yang dilakukan secara langsung di pasar sekunder seperti saham.
Menurutnya, mekanisme tersebut membuat ETF lebih mudah dijangkau investor pemula yang ingin mulai berinvestasi di pasar modal.
“ETF tidak jauh berbeda dengan reksa dana. Yang membedakan adalah ETF diperdagangkan secara ritel di bursa, sehingga cocok untuk para pemula atau beginner,” ujar Cita dalam workshop wartawan daerah yang digelar Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan bahwa ETF memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan instrumen investasi lainnya. Selain biaya transaksi yang relatif lebih murah, ETF juga dikenal memiliki tingkat transparansi dan likuiditas yang tinggi.
Dalam praktiknya, ETF diperdagangkan dalam bentuk satu paket investasi yang terdiri atas beberapa aset sekaligus. Kondisi tersebut membuat risiko investasi menjadi lebih tersebar dan tidak bertumpu pada satu emiten saja.
“Karena terdiri dari kumpulan aset dalam satu paket investasi, risikonya cenderung lebih kecil dan tersebar,” katanya.
Menurut Cita, ETF juga dinilai sesuai untuk investasi jangka panjang, termasuk sebagai instrumen persiapan dana pensiun. Produk tersebut saat ini mulai diperkenalkan lebih luas sebagai alternatif investasi masa depan yang potensial.
Sebagai instrumen gabungan, ETF menawarkan diversifikasi investasi yang memungkinkan investor memiliki eksposur terhadap berbagai aset dalam satu produk. Hal itu berbeda dengan saham yang pada dasarnya merepresentasikan kepemilikan pada satu perusahaan tertentu.
Sementara itu, Branch Manager Indo Premier Sekuritas, Marco Rijkaard Pereira, menyampaikan bahwa ETF sebenarnya telah hadir cukup lama di pasar keuangan global.
Ia menjelaskan bahwa produk tersebut mulai diperkenalkan sejak 1976 dan berkembang lebih luas di Indonesia sejak 2007.
Menurut Marco, cara kerja ETF pada dasarnya hampir sama dengan reksa dana. Perbedaan utamanya terletak pada proses transaksi jual beli yang mengikuti mekanisme perdagangan saham di bursa.
“Reksa dana dan ETF hampir sama cara kerja dan prosesnya. Yang membedakan terletak pada proses jual belinya,” ujar Marco.
Ia menambahkan bahwa ETF memiliki keunggulan dalam hal transparansi portofolio. Investor dapat melihat komposisi aset yang dimiliki secara lebih terbuka dan utuh dibandingkan beberapa instrumen investasi lainnya.
Secara umum, ETF dibagi menjadi dua kategori, yakni ETF pasif dan ETF aktif. ETF pasif biasanya mengikuti indeks tertentu yang menjadi acuan pasar, sedangkan ETF aktif menyesuaikan strategi investasinya dengan kondisi pasar yang sedang berkembang.
“Perdagangan ETF mengikuti jam bursa saham,” katanya.
Menurut Marco, minat terhadap ETF terus meningkat, terutama dari kalangan investor muda yang baru memasuki dunia pasar modal. Fleksibilitas transaksi, diversifikasi aset, dan risiko yang relatif lebih terukur menjadi beberapa faktor yang membuat produk ini semakin diminati. (ita)

