Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Indonesia melalui pendekatan akademik berbasis sains. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Jamu yang digelar di Fakultas Farmasi Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, pada Kamis, 18 Juni 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari mata kuliah Obat Tradisional dan Komplementer itu tidak hanya mengenalkan jamu sebagai produk budaya, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami dasar ilmiah yang mendukung keamanan dan khasiatnya. Festival tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil pembelajaran yang telah mereka lakukan selama satu semester, mulai dari penelusuran ramuan tradisional hingga kajian ilmiah yang mendukung penggunaannya.
Penanggung jawab kegiatan, Prof Dr apt Wiwied Ekasari MSi, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk integrasi antara teori di ruang kuliah dan praktik langsung di lapangan. Mahasiswa diajak mempelajari konsep pengobatan tradisional, menelusuri berbagai ramuan untuk penggunaan internal maupun eksternal, kemudian mengkaji bukti ilmiah yang mendasari manfaatnya sebelum akhirnya memamerkan produk yang telah mereka kembangkan dalam festival.
Menurut Prof Wiwied, pendekatan tersebut penting untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai obat tradisional di kalangan calon tenaga kesehatan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengenal jamu sebagai warisan budaya, tetapi juga memahami aspek keamanan, efektivitas, dan potensi pengembangannya di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Wiwied juga menyoroti pentingnya membedakan antara jamu asli dan minuman herbal modern yang kini banyak beredar di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa suatu produk dapat dikategorikan sebagai jamu apabila manfaat dan keamanannya telah terbukti melalui penggunaan turun-temurun selama setidaknya satu generasi atau sekitar 60 tahun.
Sebaliknya, apabila terdapat penambahan bahan baru yang belum memiliki riwayat penggunaan panjang dan belum terbukti secara tradisional, maka produk tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai minuman herbal. Pemahaman ini dinilai penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu memahami karakteristik produk yang mereka konsumsi.
Festival Jamu juga memberikan dampak positif terhadap minat mahasiswa dalam bidang bahan alam dan obat tradisional. Prof Wiwied mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa yang awalnya menganggap kegiatan tersebut sekadar bagian dari tugas perkuliahan, namun kemudian menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap potensi pengembangan bahan alam Indonesia.
Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya minat mahasiswa untuk menjadikan topik terkait bahan alam sebagai fokus penelitian maupun tugas akhir. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi yang tepat mampu menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus membuka peluang inovasi di bidang kesehatan.
Antusiasme mahasiswa menjadi bukti bahwa pendekatan ilmiah dapat memperkuat posisi jamu sebagai bagian penting dari identitas bangsa. Di tengah berkembangnya tren penggunaan produk herbal di berbagai negara, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan tanaman obat dan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Lebih jauh, Prof Wiwied berharap Festival Jamu dapat membantu mengubah stigma masyarakat terhadap obat tradisional. Jamu dinilai tidak lagi layak dipandang sebagai pilihan alternatif semata, melainkan sebagai salah satu instrumen penting dalam upaya preventif dan pemeliharaan kesehatan masyarakat.
Dengan dukungan penelitian dan pembuktian ilmiah dari bidang farmasi, jamu berpotensi menjadi aset kesehatan nasional yang memiliki daya saing tinggi. Karena itu, Fakultas Farmasi UNAIR terus mendorong penguatan identitas jamu melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga forum ilmiah internasional.
Melalui Festival Jamu, UNAIR tidak hanya berupaya melestarikan warisan budaya Nusantara, tetapi juga membangun jembatan antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan jamu tetap relevan, dipercaya, dan mampu berkembang sebagai kekayaan bangsa yang bernilai strategis di masa depan. (ita)

