Heru, Pengusaha Temulawak Inovatif
PROFIL

Heru, Pengusaha Temulawak Inovatif

Pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Banyuwangi terus mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Berbagai pelatihan dan pendampingan terus dilakukan agar mereka bisa terus survive.

Adalah Heru Prayitno, salah satu pelaku usaha yang gigih mengembangkan usahanya. Pengusaha temulawak asli Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi tersebut, punya prinsip untuk terus berinovasi dalam menjalankan usahanya.

Heru menceritakan, awal mula menjalankan usahanya, ia hanya bermodalkan uang Rp 100 ribu. Itu pun dilakoninya bersama sang istri saja, tanpa memiliki tenaga kerja satu pun.

“Semua hal saya lakukan bersama istri saya. Mulai dari mengupas bahan baku temulawak, membersihkan, mengiris tipis-tipis, hingga jadi minuman temulawak,” tutur lelaki yang mengaku menjalani usahanya sejak sepuluh tahun lalu itu.

Saat itu, Heru hanya membuat beberapa botol temulawak. Hasil produksinya setiap hari, ia pasarkan melalui beberapa warung dekat rumahnya menggunakan metode penitipan.

“Ketika habis di warung satu, maka saya isi lagi. Terus begitu. Sampai akhirnya berkembang. Dari yang tadinya hanya beberapa botol per hari, sekarang sudah laku ratusan botol tiap harinya. Saya pun sudah memiliki lima orang tenaga kerja lengkap dengan bagian pemasarannya,” terang Heru yang pernah bekerja di Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Kabupaten Sidoarjo ini.

Kendati begitu, Heru mengaku usahanya bukan tanpa kendala. Dia tak jarang mengalami kendala dengan perubahan cuaca. Ketika hawa dingin, musim hujan, dan bulan puasa, permintaan mulai menurun. Karena memang di tiga waktu tersebut, konsumen jarang minum.

“Akhirnya di awal tahun 2017, saya melakukan pengembangan produk. Dengan variasi produk terbaru yakni temulawak celup. Sekarang enak, ketika hawa dingin konsumen dapat menyeduh celup temulawak ini dengan air hangat. Sangat cocok digunakan musim dingin,” tutur wirausahawan 44 tahun ini.

Setelah cukup lama jatuh bangun merintis usahanya, kini di rumahnya, terdapat banyak sekali produk terbuat dari temulawak. Seperti minuman botol, sirup, ekstrak, permen, dan temulawak celup.

Temulawak celup adalah produk buatannya yang paling diminati. Dengan harga kisaran Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, konsumen dapat membeli satu kotak temulawak celup yang berisi 25 kantung.

“Kami bersyukur, produk temulawak celup ini sangat disukai konsumen. Bahkan dapat diterima di beberapa toko oleh-oleh di Banyuwangi. Di antaranya Osing Deles dan Savana Cake. Sementara link pemasaran mulai merambah Jakarta, Surabaya, Jember, hingga Denpasar,” ujar Heru yang mengusung brand Putri Wangi tersebut.

Menurut Heru, adanya fasilitasi bagi pelaku UMKM oleh Pemkab Banyuwangi seperti dibuatnya banyuwangi mall, dirasa Heru sangat menguntungkan.

“Saat bergabung dengan banyuwangi-mall, branding kemasan produk saya meningkat pesat. Apalagi itu juga ditunjang dengan berbagai pelatihan dan pendampingan pendukung bidang kewirausahaan yang dilaksanakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi,” tambah Heru yang omzet pertumbuhan usahanya sekarang mencapai Rp 22,5 juta per bulan.

Berkat kerja kerasnya tersebut, bahkan pada Mei 2017 lalu, Heru berhasil meraih kejuaraan inovasi produk di tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

“Puji syukur saya mendapatkan dana hibah Rp 320 juta dari ajang ini. Ini semua berkat kemudahan yang diberikan Allah, serta inovasi pengembangan produk dan kerja keras kami,” ucap Heru.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Banyuwangi, Alief R. Kartiono mengatakan, pihaknya terus mendorong agar UMKM di Banyuwangi terus tumbuh. Sebab UMKM ini merupakan roda penggerak ekonomi masyarakat yang sangat potensial.

“Pembinaan yang kami lakukan adalah pembinaan dua arah. Yakni penumbuhan wirausaha baru (WUB) dan peningkatan kualitas produk bagi UMKM yang sudah eksisting,” terang Alief.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), total jumlah UMKM yang ada di Banyuwangi berjumlah 296.000 lebih.

“Dari jumlah tersebut yang berpotensi sebagai UMKM unggulan sekitar 300 UMKM. Yang paling banyak UMKM di bidang makanan dan minuman olahan, berikutnya adalah batik, aksesoris dan aneka kerajinan,” jelas Alief.

Keseriusan pemkab untuk meningkatkan mutu dan kualitas UMKM ini salah satunya dilakukan dengan menghadirkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ke Banyuwangi untuk mengembangkan usaha kreatif berbasis desa.

Lewat program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (Ikkon), Bekraf intens membagi pengalaman dan ilmu mengembangkan bisnis kreatif pada para pelaku UMKM Banyuwangi.

Bekraf juga menggelar workshop bisnis kreatif yang melibatkan mahasiswa, komunitas dan para pelaku UMKM pada 19-22 September 2017 lalu. Acara tersebut digelar di Rumah Kreatif Banyuwangi. Rumah Kreatif Banyuwangi adalah pusat kreasi bagi UMKM Banyuwangi sekaligus markas situs belanja online banyuwangi-mall.com. (ist)