Lomba Dalang Muda Unair Tentang Majapahit
SENI BUDAYA

Lomba Dalang Muda Unair Tentang Majapahit

Selain berfokus pada riset dan keilmuan, Universitas Airlangga turut mengembangkan kemajuan bangsa berbasis nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya berwujud pada pengembangan seni tradisi perdalangan di Jawa Timur.

Menggandeng sejumlah instansi pemerintah, UNAIR menggelar Lomba Dalang Muda Wayang Majapahit Universitas Airlangga 2019. Tepatnya digelar pada Sabtu (20/7) di Taman Budaya Jawa Timur atau Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya.

Penyerahan gunungan kepada peserta pertama oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof Ir Moch Amin Alamsjah MSi PhD menandai dimulainya perlombaan tersebut.

Total terdapat tujuh dalang muda yang bersaing menunjukkan ketrampilan mereka membawakan wayang. Perinciannya, sebanyak 6 finalis dari berbagai daerah di Jawa Timur dan 1 finalis dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Ketua Panitia Prof Dr Bambang Tjahjadi SE MBA Ak menyampaikan lomba tersebut menjadi salah satu bagian dari pengabdian masyarakat UNAIR.

Acara tersebut, lanjut dia, bertujuan menggali kreativitas dengan basis budaya lokal, khususnya yang diakui UNESCO. “Basis budaya lokal khususnya yang diakui UNESCO salah satunya wayang,”katanya.

Prof Bambang menambahkan, cerita yang diambil adalah cerita wayang berbasis budaya lokal, yakni cerita Majapahit.

Pengambilan cerita itu, menurut Prof Bambang, didasari atas maraknya cerita Mahabharata yang dipentaskan selama ini. “Telah banyak cerita wayang dari luar seperti Ramayana dan Mahabharata,” ujarnya.

Prof Bambang menyampaikan, adanya lomba wayang tersebut diharapkan pengabdian masyarakat Unair dapat membawa berkah dengan memiliki tradisi basis lokal Indonesia sehingga dapat disandingkan dengan budaya luar. Dan juga pemuda Indonesia tidak boleh minder harus mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dari bangsa lain.

Sementara itu, menambahkan dari pernyataan Prof Bambang, Prof Amin menjelaskan kegiatan tersebut termasuk dalam upaya mendukung UNAIR 500 World Class University (WCU).

“Karena dalam mendukung UNAIR 500, WCU ada beberapa faktor penilaian termasuk pengembangan budaya lokal,” kata Prof Amin. “Melalui kegiatan ini, UNAIR memfasilitasi dalang-dalang muda untuk dapat mengembangkan diri dengan saling menunjukkan keterampilan mengolah wayang kulit,” imbuhnya.

Acara tersebut didukung beberapa mitra seperti Rumah Sakit PHC, Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya, dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi).

Juri dalam perlombaan itu melibatkan akademisi UNAIR dan pakar seni pertunjukkan dari ISI Solo. Yakni, Djoko Dewantoro, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); Soetrisno, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB); dan Sugeng Nugroho, dekan Seni Pertunjukkan ISI. (ita)