Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
  • Khofifah Sambut Jemaah Haji Kloter I, Apresiasi Layanan Imigrasi Digital
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»GAYA HIDUP»Medsos Hanya Pesona Palsu

Medsos Hanya Pesona Palsu

GAYA HIDUP redaksi25/03/2022 - 13:00 WIB

Belakangan sedang ramai perbincangan soal penangkapan Indra Kenz dan Doni Salmanan. Keduanya dinyatakan tersangka kasus penipuan berkedok trading binary option dengan merek aplikasi terpisah.

Erat dengan ciri khas flexing atau tren pamer harta di media sosial, Nisa Kurnia Illahiati SIKom MMedKom dosen Departemen Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Airlangga (UNAIR) turut angkat bicara.

“Fenomena penipuan ini sudah ada sejak manusia mengerti cara memenuhi kebutuhan hidup secepat mungkin,” ucap Nisa membuka percakapan. Hanya saja, lanjutnya, seiring perkembangan teknologi informasi dan dunia maya, korban penipuan dapat digaet dengan mudah.

Media sosial mengizinkan penggunanya untuk menjadi siapapun yang ia mau. Termasuk, menjadi seseorang yang ‘tampaknya’ kaya raya.

“Pada saat kita berinteraksi di dunia maya, kita secara tidak sadar mencari kesamaan, mengidentifikasi. Misalnya kita lihat mana orang-orang yang kita anggap berhasil. Jika ingin menjadi seperti itu, maka aku harus meniru apa yang orang itu lakukan,” jelas Nisa.

Nisa yang secara spesifik menggeluti studi media dan budaya tersebut menekankan penipuan semacam itu dilakukan dengan eksposur kontinyu terhadap tema konten senada.

Dalam diskursus ilmu komunikasi, hal ini dirujuk sebagai simbol. Simbol ini hadir dalam konten pelaku yang tersebar di media sosial. Sekaligus, mengisyaratkan bahwa semua orang bisa cepat kaya dan sukses dalam waktu singkat.

“Kalo kita denger berkali-kali dan kita terima simbol yang sama secara terus-menerus, maka sesuatu tersebut akan menjadi kebenaran,” ujar pengajar pada mata kuliah Cyberculture: Internet, Media, and Culture, Departemen Ilkom UNAIR itu.

Kanal YouTube Indra Kenz, misalnya, penuh dengan tips menghasilkan pemasukan besar dalam waktu singkat dalam trading. Begitu pula akun TikTok-nya yang penuh konten memamerkan barang-barang dengan harga selangit, serupa dengan konten pada kanal YouTube Doni Salmanan.

Selain pamer outfit dan merk tunggangan, aksi kedermawanan juga populer. Terutama demi menyampaikan pesan bahwa mereka tidak hanya kaya, tapi juga berhati malaikat. “Padahal, media sosial itu hanya persona palsu yang mudah sekali diciptakan,” tambah Nisa.

Nisa melanjutkan, masyarakat Indonesia punya tendensi besar untuk percaya pada apa yang orang katakan daripada mengecek sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang luluh pada tampilan berkilau penipu investasi bodong ini.

Terlebih mereka yang sudah terlanjur jadi followers atau subscribers dan mengidolakan para influencers tersebut. “Sebenarnya yang dibeli itu kadang bukan barangnya, tetapi kedekatan emosionalnya,” tukas lulusan sarjana UNAIR itu.

Lebih jauh, Nisa menyorot bahwa terdapat tuntutan sosial agar seseorang harus mandiri dan melek secara finansial sedini mungkin. Keinginan menjadi independen secara finansial, meski demikian, tidak bisa ditelan mentah-mentah.

Adanya keinginan untuk cepat kaya, lanjut Nisa, malah mampu mendorong orang-orang untuk terjerumus pada salah satunya investasi akal-akalan Indra dan Doni ini.

“Kalau ada sesuatu yang too good to be true (terlalu sempurna untuk jadi nyata, Red), biasanya begitu. Pasti ada sesuatu di balik itu semua,” catat Nisa. (ita)

Medsos Hanya Pesona Palsu
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi

02/06/2026 - 21:50 WIB

Comments are closed.

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi

02/06/2026 - 21:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.