Prigi, Berkat Gemar Mandi di Sungai
PERISTIWA PROFIL

Prigi, Berkat Gemar Mandi di Sungai

Nama Prigi Arisandi kian banyak dikenal khalayak luas berkat jasanya memberhentikan polusi industri sungai Surabaya yang menyediakan air minum bagi 3 juta orang.

Bahkan karena kontribusinya itu, Prigi mendapat penghargaan Goldman Environmental Prize dari yayasan San Fransisco.

Ditemui selepas mengisi talkshow alumni berprestasi di Airlangga Education Expo (AEE) Minggu (17/02) lalu di Airlangga Convention Center (ACC), Prigi Arisandi mengaku begitu senang diberi kesempatan untuk menjadi pembicara di AEE.

Hal positif yang didapatkan Prigi ialah ia dapat menebar manfaat kepada para calon mahasiswa UNAIR.

Prigi kemudian meceritakan riwayat hidupnya dari kecil sampai akhirnya menjadi pejuang lingkungan. Prigi Arisandi berujar, sewaktu kecil ia tinggal di lingkungan pedesaan nan asri yakni Desa Bambe, Driyorejo, Gresik.

Prigi bercerita, dirinya sudah berteman dengan sungai sejak kecil. Itu bermula saat Prigi kecil sering mandi di sungai dekat rumahnya. Bahkan olehnya, Prigi mengaku sering dilempar ke sungai.

Semua berubah, imbuhnya, tatkala berdiri sebuah pabrik industri kertas yang dekat dengan sungai. Kala itu Prigi sedang kuliah di Surabaya sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi.

Saat pulang ke kampung halaman dan ingin mandi di sungai, Prigi menyadari ada yang berbeda karena tercium bau lumpur pada air sungai.

Setelah diusut, ternyata sungai itu dijadikan tempat pembuangan limbah pabrik. Padahal di bawah sungai digunakan untuk aliran air minum PDAM. “Itulah yang menggerakkan saya mendirikan Komunitas Ecoton,” terang Prigi

Ia mengatakan hal itu juga menggugah Prigi memiliki jiwa empati yang tinggi. Hal itu dibuktikan kala ia mendirikan komunitas Ecological Observation and Wet Conservation (Ecoton).

Ecoton ialah kelompok studi pemerhati lingkungan yang digagas Prigi pada tahun 1996. Ecoton sendiri berfokus meneliti sungai-sungai yang ada di Surabaya. “Saya sering membawa alat uji di kampus untuk melakukan penelitian,” lanjut Prigi.

Genap 4 tahun setelah Ecoton berdiri, pada tahun 2000 Ecoton teah resmi dibadan hukumkan menjadi yayasan. Kini Ecoton memiliki 11 staff peneliti dan 50 volunteer.

Kabar baiknya, Ecoton sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Selain itu juga banyak kampus luar negeri mengirim permintaan magang di yayasan Ecoton.

Sebagai alumnus Biologi UNAIR, Prigi berpesan kepada para mahasiswa supaya lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Mahasiswa harus berpengetahuan luas namun juga tidak segan membagi ilmu yang didapat kepada masyarakat.

“Ada 4 golongan muslim menurut Imam Al Ghazali, pertama sosok yang berilmu dan dia tahu kalau dirinya berilmu. Kedua, seorang yang berilmu namun dia tidak tahu bila dirinya berilmu. Ketiga, orang yang tidak tahu dan ia tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dan keempat, orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu,” jelas Prigi.

Prigi berucap agar jangan sampai para mahasiswa berada pada golongan keempat. Jadilah mahasiswa yang memiliki empati kepada sesama. Banyak orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan sama sekali tidak memikirkan kepentingan orang lain. Mulai sekarang bangkit dan lakukan perubahan untuk sekitar. (ist)