Sinopharm Dulu, Sputnik Kemudian
KESEHATAN PERISTIWA

Sinopharm Dulu, Sputnik Kemudian

Kedatangan vaksin tahap ke-10 berbeda dari sebelumnya. Kali ini, vaksin yang dikirim terdiri dari dua produk sekaligus, yakni CoronaVac buatan Sinovac Biotech Ltd dan Sinopharm dari China National Pharmatical Corporation. Kedua perusahaan itu mengoperasikan industrinya di Beijing, Tiongkok.

Vaksin-vaksin itu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat, 30 April 2021 siang, dengan pesawat Garuda GA-891. “Pada hari ini, telah tiba vaksin Covid-19 sejumlah 6 juta dosis dalam bentuk bahan baku atau bulk yang berasal dari Sinovac Biotech Ltd dan 482.400 dosis vaksin dalam bentuk jadi dari Sinopharm China National Pharmatical Corporation,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerard Plate, yang datang ke Bandara Soekarno-Hatta menjemput vaksin dari Beijing itu.

Dengan kedatangan vaksin ini, Indonesia telah menerima 65,5 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk dari Sinovac, yang setelah diproses di PT Biofarma Bandung menghasilkan 53 juta dosis jadi, serta 8,4 juta dosis vaksin bentuk jadi dari Sinovac, Sinopharm, dan AstraZeneca.

“Kedatangan vaksin pada hari ini merupakan bentuk konsistensi pemerintah dalam mengamankan pasokan vaksin secara bertahap di dalam negeri, di tengah situasi di mana negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk mendapatkan vaksin Covid-19,” kata Johnny G Plate.

AstraZeneca, CoronaVac (Sinovac), dan Sinopharm adalah tiga dari 14 nama produk vaksin yang kini beredar di dunia. Ketiganya cukup populer. AstraZeneca, yang akan diproduksi 3 miliar dosis pada sepanjang 2021, sudah mengantungi sertifikat emergency use authorization (EUA) atau izin edar di 132 negara. Sinopharm memegang EUA di 49 negara dan Sinovac 29 negara.

Vaksin Sinovac (CoronaVac) sudah digunakan di Indonesia sejak 13 Januari 2021 dan AstraZeneca sejak akhir Maret 2021. Keduanya untuk program vaksinasi reguler yang biayanya ditanggung negara. Ada pun Sinopharm peruntukannya bagi program Vaksinasi Gotong Royong, yang dibiayai secara gotong-royong oleh perusahaan swasta, untuk dikenakan pada segenap karyawannya.

Vaksin Sinopharm ini diproduksi dengan platform virus yang dilemahkan (inactivated virus), persis seperti Sinovac. Uji klinis tahap ketiganya dilakukan secara sungguh-sungguh dengan melibatkan 48 ribu relawan di Uni Emirat Arab, Bahrain, Jordania, Maroko, Argentina, hingga Peru. Secara resmi, Sinopharm China National Pharmatical Corporation menyebutkan efikasi (kemanjuran) vaksinnya mencapai 79 persen.

Vaksin Gotong Royong ini diharapkan bisa menjangkau 15 juta kaum pekerja. Namun, pada akhir tahap pertama Maret lalu, baru didaftarkan 8,6 juta penerima vaksin dari 17.386 perusahaan, baik korporasi besar maupun UKM. Ada subsidi silang pada pembiayaannya. Pengadaan Vaksin Gotong Royong dilakukan Pemerintah melalui Kementerian BUMN. Pelaksana pengadaannya ialah PT Biofarma.

Pada tahap pertama ini, kebutuhan Vaksin Gotong Royong direncanakan akan dipasok Sinopharm sebanyak 15 juta dosis dan tiga juta dosis lainnya oleh Gamaleya Research Institute, Rusia, dengan Vaksin Sputnik-V. Vaksin Rusia ini cukup populer. Hingga akhir April 2021 Sputnik-V telah menggaet izin edar (EUA) dari 68 negara.

Para peneliti Gamaleya Reasearch Institute melaporkan di jurnal kesehatan (mingguan) The Lancet edisi awal Februari bahwa Sputnik-V mencatat efikasi sampai 91,6 persen. Uji klinis tahap tiganya dilakukan di Rusia, Belarus, India, Uni Emirat Arab, dan Venezuela, dengan melibatkan sedikitnya 40 ribu relawan.

Vaksin Sputnik-V itu diproduksi dengan platform adenovirus vector, mirip pada AstraZeneca. Sayatan genom virus ditempelkan pada virus vektor, yang tak bisa mereplikasi diri atau berbiak dalam tubuh manusia. Hasilnya, ada rangsangan tubuh untuk memproduksi antibodi. Peneliti Gameleya Research Institute juga melaporkan, vaksinnya tak menimbulkan efek samping. Dalam waktu dekat, Sputnik-V itu diharapkan juga bisa mendarat di Bandara Soekarno Hatta.

Dari stok awal hampir 62 juta dosis vaksin itu, 20 juta dosis di antaranya sudah dipakai, dikenakan ke 12,4 juta orang (4,5 persen dari populasi) pada akhir April. Dari jumlah itu, 7,6 juta di antaranya sudah genap menjalani suntikan vaksin dua kali. Pemerintah kini masih harus bekerja keras dalam upaya mencapai jangkauan vaksinasi ke 70 juta orang pada Juli 2021.

Menteri Kominfo Johnny G Plate merasa perlu mengingatkan bahwa vaksinasi itu hanya salah satu jalan menanggulangi pandemi, yakni dengan membangun kekebalan kelompok (herd immunity). Maka, pemerintah bertekad terus melakukan testing, tracing, dan treatment (3T) untuk mengendalikan penularan Covid-19.

Namun di sisi lain, Menteri Johnny G Plate berharap, segenap masyarakat terus mendukung upaya pengendalian pandemi. “Masyarakat diharapkan bisa terus disiplin melaksanakan protokol kesehatan 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun atau memakai hand sanitizer,” kata Menkominfo.

Kehati-hatian semua pihak diperlukan. Terjadinya serangan pada gelombang kedua dan gelombang ketiga penularan Covid-19, yang mengakibatkan terjadinya kembali pelonjakan kasus positif Covid-19 di sejumlah negara, seperti India, Iran, dan Turki, hendaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk disiplin, siaga, dan waspada menyikapi. Menkominfo berharap kejadian tersebut tak terjadi di Indonesia. (indonesia.go.id)