Situasi Covid-19 Tetap Rendah dan Terkendali
KESEHATAN PERISTIWA

Situasi Covid-19 Tetap Rendah dan Terkendali

Sejak tanggal 5 hingga 18 Oktober kemarin, pemerintah melakukan uji coba penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 atau new normal di Jawa-Bali yang dilaksanakan di Kota Blitar, Jawa Timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan bahwa selama penerapan PPKM Level 1, situasi pandemi di kota tersebut dapat tetap terkendali pada level yang rendah.

“Hasil evaluasi terhadap Kota Blitar menunjukkan hasil yang sangat positif. Sejak masuk ke Level 1, situasi COVID-19 di Kota Blitar tetap rendah dan terkendali,” ujar Luhut usai mengikuti Rapat Terbatas yang dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengenai PPKM, Senin (18/10), secara virtual.

Luhut menegaskan, upaya tracing dan vaksinasi yang terus ditingkatkan ditambah dengan dukungan dari implementasi PeduliLindungi menjadi faktor keberhasilan pengendalian pandemi di kota tersebut.

“Terkendalinya kasus didorong oleh tingkat tracing, vaksinasi, dan penggunaan PeduliLindungi yang terus meningkat meski sudah masuk Level 1. Ini akan kita gunakan model ke tempat-tempat lain,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menko Marves menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan pandemi di Kota Blitar. Ia pun berharap upaya serupa dapat dilakukan di daerah lainnya.

“Pemerintah pusat memberikan apresiasi tinggi kepada Wali Kota, Dandim, Kapolres, Dinkes, dan seluruh pihak lainnya yang telah mencapai, yang telah berkontribusi dalam penanganan pandemi COVID-19 di Kota Blitar. Contoh baik di Kota Blitar perlu menjadi contoh bagi penanganan pandemi COVID-19 di semua kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Pembukaan Pintu Internasional Indonesia dan Perkembangan Obat COVID-19 Per tanggal 14 Oktober lalu, pemerintah telah mengizinkan 19 negara untuk masuk ke Indonesia melalui pintu masuk yang telah ditentukan.

Luhut menegaskan bahwa pemilihan kesembilan belas negara tersebut dilakukan dengan pertimbangan yang matang berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Selain itu, pembukaan juga dilakukan dengan mengedepankan prinsip resiprositas.

“[Sebanyak] 19 negara tersebut dipilih dengan mempertimbangkan jumlah kasus dan tingkat positivity rate yang rendah berdasarkan standar WHO. Tapi bila mereka belum membuka ke kita, karena kita resiprokal mereka pun nanti tidak tertutup kemungkinan akan kita drop dari list 19 negara itu,” ujarnya.

Luhut menyampaikan, pemerintah akan melakukan evaluasi berkala terkait pembukaan pintu internasional ini. “Presiden juga mengingatkan kepada kami agar terus melakukan evaluasi tiap minggunya agar dapat memitigasi dampak buruk dari pembukaan pintu masuk terhadap 19 negara tersebut,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menko Marves juga menyampaikan bahwa sebagai bagian dari usaha untuk dapat segera mengatasi pandemi, pemerintah terus mengupayakan ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk penanganan COVID-19.

“Pemerintah saat ini juga terus menjajaki beberapa alternatif obat COVID-19. Saya saat ini bersama dengan Menteri Kesehatan sedang berada di Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai [obat] Molnupiravir,” ungkapnya.

Selain Molnupiravir, pemerintah juga sedang mempertimbangkan kemungkinan penggunaan dua obat lainnya, yaitu AT-527 dari Roche & Atea Pharmaceuticals serta Proxaludetamide produksi Suzhou Kintor Pharmaceuticals.

“Ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat COVID-19. Namun saya dapat sampaikan bahwa kita tidak ingin hanya sekadar menjadi pembeli, kita harapkan menjadi produsen obat tersebut, melakukan kerja sama, dan melakukan investasi dan produksinya di Indonesia,” tandas Luhut. (sak)