Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»TEKNOLOGI»Alat Penyerap Tumpahan Minyak

Alat Penyerap Tumpahan Minyak

TEKNOLOGI redaksi01/07/2017 - 10:00 WIB

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan alat penyerap minyak yang tumpah di perairan khususnya pelabuhan bernama MABOA. Keempat mahasiswa yang beranggotakan Romi Dwi Nanda, Mauliddiana Nurul Ilyas, Nur Sakinah Junirahma dan Muhammad Alfian Arifin memanfaatkan ledakan pertumbuhan gulma perairan yaitu eceng gondok yang dicampur dengan sekam padi menjadi ‘magic briket’ penyerap tumpahan minyak di perairan.

Mereka merangkai ‘magic briket’ tersebut menjadi suatu sistem alat berbentuk jaring yang dikombinasikan dengan auto spray berisi bakteri pendegradasi minyak sehingga sistem alat ini bersifat ramah lingkungan.

Ide ini muncul karena keprihatinan mereka atas kondisi perairan Indonesia yang semakin hari semakin memburuk. Dapat dilihat ketika berada di sekitar pelabuhan, air laut berwarna hitam akibat masuknya minyak solar dan oli bekas dari perahu-perahu nelayan.

Data dari badan dunia Group of Expert on Scientifict Aspect of Marine Enviromental Proection (GESAMP) menyebutkan jika masukan senyawa hidrokarbon di dunia mencapai angka 6,44 juta ton/tahun.

“Bayangkan saja penumpukannya dalam perairan tentu berdampak fatal bagi kehidupan laut. Banyak organisme yang mati, bahkan bukan hanya bisa membahayakan berbagai ekosistem yang ada namun juga berakibat pada kesehatan kita apabila ikan-ikan yang mati tersebut secara tidak sengaja ikut terkonsumsi” kata Diana.

Romi melalui Humas UB menambahkan penanganan kasus-kasus seperti ini biasanya memberi efek buruk setelahnya. Dana negara yang terkuras juga tidak main-main besarnya.

MABOA merupakan alat dengan sistem pendegradasi yang ramah lingkungan, tidak berdampak buruk, ekonomis dalam pengaplikasiannya dan membantu mengurangi beberapa masalah yang ada di perairan Indonesia secara sekaligus.

Nina mengatakan cara penggunaan MABOA dengan melingkarkan pada zona tumpahan dimana ‘magic briket’ akan menghalau perluasan zona tumpahan dan selanjutnya auto-spray akan menyemprotkan cairan pendegradasi yang akan berkerja dan berfokus pada area di tengah lingkaran jaring.

Secara optimal alat ini dapat mengurangi tumpahan minyak dalam jangka waktu tiga sampai tujuh hari. Mereka sudah melakukan uji coba prototype di salah satu laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB.

Saat ini, alat tersebut masih dalam tahap penyempurnaan desain agar mudah diaplikasikan ketika dilakukan uji coba ke pelabuhan yang terindikasi tumpahan minyak. “Kami menargetkan alat kami segera selesai, sehingga bisa kami uji coba ke pelabuhan pekan depan,” kata Alfian.

Dengan adanya ide ini, mereka berharap suatu saat dapat dibuat suatu alat pendegradasi tumpahan minyak yang ramah linkungan dengan menggunakan sistem yang telah mereka buat. Pemerintah pun dapat menekan biaya penanganan apabila suatu ketika terjadi insiden tumpahan minyak di laut.

“Saat ini MABOA sedang dalam proses pendaftaran Hak Patent di LPPM UB. Kami berharap kedepan MABOA bisa diaplikasikan secara lebih luas tidak hanya di pinggir pelabuhan saja,” ujar Alfian. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

ITS Kembangkan Bensin Sawit Ramah Lingkungan, Efisien dan Berpotensi Kurangi Ketergantungan BBM Impor

07/04/2026 - 21:11 WIB

Mahasiswa ITS Ciptakan Rompi Pintar SAFE, Tingkatkan Keselamatan Lansia Berbasis IoT dan Deep Learning

13/12/2025 - 00:24 WIB

Balapan Gokart Listrik di Sirkuit ITS

25/11/2025 - 13:00 WIB

ITS Sukses Mendominasi Gemastik 2025

05/11/2025 - 15:00 WIB

ITS Kembangkan Paving Anti-banjir

04/11/2025 - 12:00 WIB

Jam Tangan Daur Ulang Mahasiswa ITS

18/10/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.