Gubernur Jawa Timur menyetujui Langkah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dalam rangka pelaksanaan insentif jangka panjang alias Long Term Incentive (LTI).
Persetujuan disampaikan Gubernur Jatim saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Jatim Tahun 2017 di Ruang Bromo, Lantai 5 Kantor Pusat Bank Jatim, Jl. Basuki Rachmat Surabaya, Rabu (6/12) pagi.
Gubernur mengatakan, langkah buyback merupakan salah satu strategi dan solusi tepat untuk mendatangkan keuntungan bagi perusahaan di masa mendatang.
“Selain itu, langkah ini agar investor di pasar bursa tidak terganggu, maka sebagian sahamnya dibeli Bank Jatim,” katanya.
Gubernur mengingatkan, dalam pembelian saham tersebut memerlukan kecermatan dan kehati-hatian. Bank Jatim diharapkan menerjunkan para Intelijen Pemasaran atau Market Intelligent (MI) yang berkompeten untuk terus memantau dengan seksama pergerakan pasar bursa.
“Bank Jatim harus menerjunkan MI untuk melihat perkembangan pasar bursa melalui komputernya. Harus siap melek tiap malam untuk memantau, jika tidak dipantau maka harganya bisa turun,” ingatnya.
Komisaris Utama Independen Bank Jatim, Heru Santoso menjelaskan, RUPSLB membahas tiga agenda pokok, yakni persetujuan rencana pembelian kembali saham atau buyback dalam rangka pelaksanaan Long Term Intencive (LTI) sesuai POJK no. 45/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Dalam Pemberian Remunerasi Bagi Bank Umum.
Agenda kedua adalah perubahan buku Pedoman Kerja Direksi Perseroan, dan terakhir pemberian kuasa kepada dewan komisaris untuk menyetujui perubahan peraturan dana pensiun.
Heru mengatakan, buyback adalah proses pembelian kembali saham yang beredar di publik (outstanding share) yang dilakukan perusahaan. Dalam proses buyback perusahaan menginvestasikan dana yang dimiliki untuk membeli saham perusahaannya sendiri dari publik.
Dengan melakukan pembelian kembali, perusahaan dapat memperoleh keuntungan di masa yang akan datang jika perusahaan memutuskan menjual kembali saham yang dibuyback ketika harga naik.
Untuk mendukung rencana buyback, Bank Jatim akan menyiapkan dana Rp 1,01 miliar yang berasal dari pendapatan pengurus. Buyback akan dimulai pada 7 Desember 2017 sampai 1 April 2018 mendatang.
Nilai saham Bank Jatim dari tahun ke tahun menunjukkan tren positif, hingga akhir periode Oktober 2017, harga saham Bank Jatim Rp 695/lembar saham. Harga itu naik 61,87% sejak IPO 2012 Rp 430.
Kemudian, lanjut Heru, kinerja keuangan periode Oktober 2017 mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy). Bank Jatim membukukan laba bersih Rp 1,13 triliun atau tumbuh 26,07%.
“Untuk total kredit tercatat Rp 31,10 triliun atau tumbuh 4,67%, sedangkan Dana Pihak Ketiga Rp 48,01 triliun atau tumbuh 16,72%.” katanya.
Ditambahkan, untuk rasio keuangan Bank Jatim, pada Oktober 2017 tercatat lebih baik dibandingkan periode tahun sebelumnya, antara lain Net Interest Margin (MIN) sebesar 6,73% dari sebelumnya 6,72%, Return of Asset (ROA) 3,07% menjadi 3,58%.
“Bank Jatim berhasil membukukan efisiensi pada Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional atau BOPO dari 71,07% menjadi 64,78%” pungkasnya. (ita)

