Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Ketahanan Sosial Budaya Atasi Antagonisme

Ketahanan Sosial Budaya Atasi Antagonisme

SENI BUDAYA redaksi22/10/2018 - 15:00 WIB

Yahya Cholil Staquf anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) meyakini Indonesia memiliki ketahanan sosial budaya luar biasa mengatasi antagonisme yang merebak melalui media sosial. Menurutnya, banyak krisis yang telah dilalui sejak zaman Majapahit hingga saat ini tapi bisa diselesaikan dengan baik.

Demikian disampaikannya pada Seminar Kebangsaan Peran Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa di Gedung Widyaloka, Kamis (18/10) lalu. Kegiatan ini merupakan kerjasama Universitas Brawijaya dan PWNU Jatim dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

“Walaupun di media sosial kelihatannya keras sekali sampai yang membaca ketakutan, tapi tidak sampai terproyeksi di dunia nyata,” ucap Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) yang akrab disapa Gus Yahya ini.

Hal ini menurutnya, karena Indonesia punya ketahanan sosial budaya yang menjadi kekuatan peradaban yang tidak dimiliki masyarakat-masyarakat lain di dunia.

Berdasar pengalamannya walaupun di media sosial ia dikomentari pedas, dalam dunia nyata ketika bertemu tidak lantas terlontar makian pula. “Ini karena kita punya budaya sungkan,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut Gus Yahya juga meluruskan makna hari santri yang diperingati setiap 22 Oktober. Dikatakannya Hari Santri bukanlah hari besar keagamaan tapi hari besar nasional yang berarti milik semua orang bukan NU saja.

Santri menurutnya adalah tradisi intelektual nusantara yang tumbuh selama berabad-abad sejak zaman pra islam. Sebelum ada pendidikan model Barat yang diadopsi saat ini, pendidikan nusantara terjadi di padepokan-padepokan dengan resi-resi.

Para resi tinggal dengan murid-murid yang tinggal bersama, sebelumnya bernama cantrik. “Mereka inilah santri,” ujarnya.

Ia berharap Hari Santri bisa diperingati siapapun yang merawat tradisi intelektual nusantara pada dirinya termasuk Muhammadiyah. Dijelaskannya, unsur utama tradisi ini adalah dinamika kecendekiaan. Ciri dinamika kecendekiaan ini adalah gagasan-gagasan intelektual besar yang membentuk peradaban nusantara ini.

Contohnya adalah identitas kerajaan Majapahit sebagai Bhinneka Tunggal Ika yang tidak menggunakan agama sebagai identitas kerajaannya.

Selain Gus Yahya, pembicara terakhir yakni Dr Ahmad Basarah Wakil Ketua MPR RI mengungkapkan sejarah munculnya Hari Santri yang disahkan di Keputusan Presiden (Keppres) No. 22 tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.

Pada tahun 2014, Joko Widodo yang masih menjadi calon presiden diajak Basarah ke Pesantren Babussalam, Malang. Pesantren ini dipimpin H Thoriq Darwis bin Ziyad atau akrab disapa Gus Thoriq. Di tempat itulah Gus Thoriq mengajukan usulan agar tanggal 1 Muharram dijadikan Hari Santri bila Jokowi terpilih.

Setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden RI, di tanggal 15 Oktober 2018 ia menandatangani Keppres Hari Santri. Namun bukan di 1 Muharram melainkan tanggal 22 Oktober yang merupakan momen saat KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad kaum muslimin untuk membela bangsanya yang terkenal dengan fatwa Hubbul Wathon Minal Iman. (ist)

Hari Santri nasional Yahya Cholil Staquf
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.