Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»HIBURAN»Sejarah Hari Film Nasional

Sejarah Hari Film Nasional

HIBURAN redaksi31/03/2021 - 11:00 WIB

Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret. Berikut sejarah hari film nasional. Perjalanan perfilman Indonesia sebenarnya berlangsung sejak 1900.

Di mana kala itu, berdiri bioskop pertama, yakni Teater Gambar Idoep di Tanah Abang, Batavia. Teater tersebut menayangkan berbagai film bisu.

Lebih dari dua dekade setelahnya, pada 1926 film lokal pertama yang bertajuk “Loetoeng Kasaroeng” dirilis. Film bisu ini disutradarai oleh sutradara asal Belanda, G. Kruger dan L. Hueveldorp.

Kemudian, pada 1928 pekerja film dari Shanghai datang ke Indonesia untuk menggarap film “Lily Van Shanghai”. Meski menggunakan banyak aktor lokal, film-film pada masa itu masih mencerminkan dominasi Belanda dan Cina.

Sementara, ketika Jepang menjajah Indonesia pada era 1940-an, perfilman justru menjadi alat propaganda politik Jepang selama sekitar 7 tahun. Pada masa tersebut, film Indonesia tidak memiliki izin produksi. Sebab, hanya film politik Jepang dan film Indonesia lama yang diperbolehkan tayang.

Dunia perfilaman Indonesia mulai bangkit lagi pada 1950. Kala itu, sutradara Indonesia, Usmar Ismail mendirikan NV Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) dan langsung memproduksi film berjudul “Darah dan Doa” atau “The Long March of Siliwangi” melalui skenario Sitor Situmorang.

Pada 30 Maret 1950, menjadi hari pertama syuting film tersebut. Film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang mengusung ciri Indonesia.

Selain itu, film ini merupakan film pertama yang disutradarai orang Indonesia dan diproduksi oleh perusahaan film Indonesia, Perfini yang didirikan Usmar Ismail.

Kemudian, pada 1951 perkembangan dunia film nasional semakin menggeliat. Ini tak lepas dari diresmikan Metropole, bioskop termegah dan terbesar pada saat itu. Jumlah bioskop pun semakin pesat keberadaanya. Namun, sebagian besar memang dimiliki oleh kalangan non pribumi.

Pada 1955 terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya melebur menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI).

Dari perkembangan tersebut, alhasil pada 11 Oktober 1962 pada konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman menetetapkan 30 Maret menjadi Hari Film Nasional.

Penetapan tanggal ini berdasarkan dari hari pertama syuting dari film “Darah dan Doa” karya Usmar Ismail.

Keputusan ini diperkuat dengan terbitnya Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional di era Presiden BJ Habibie. (rri)

Hari Film Nasional
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.