Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»OLAHRAGA»Hara-Wara, Maskot Peparnas Papua

Hara-Wara, Maskot Peparnas Papua

OLAHRAGA redaksi03/11/2021 - 13:00 WIB

Keberadaan maskot dalam setiap perhelatan olahraga ibarat sayur kurang garam. Sebesar apapun kegiatan olahraga itu digelar jika tidak disertai kehadiran maskot sebagai sosok pengingat, maka serasa ada yang hilang.

Di dunia olahraga sendiri tradisi memakai maskot sudah ada sejak 1966 silam. Ketika itu akan digelar putaran final Piala Dunia cabang sepak bola di Inggris.

Agar kegiatannya lebih semarak dan mampu mengundang banyak sponsor, Panitia Pelaksana Piala Dunia 1966 memutuskan untuk membuat semacam penanda kegiatan berupa maskot. Syaratnya, maskot itu harus berbentuk hewan dan terpilihlah sosok singa, mewakili julukan tim nasional Inggris, The Three Lions.

Sosok maskot berbentuk singa diciptakan Reg Hoye, ilustrator buku cerita anak-anak karya novelis kenamaan Inggris, Enid Blyton. Hoye membuatnya pada Juli 1965 dan menamai maskot karyanya sebagai Willie. Itu diambil dari nama Direktur Administrasi Piala Dunia 1966, EK “Willie” Wilson. Demikian dituturkan Amy Lawrence dalam bukunya, 1966 and Not All That.

Sejak itu, setiap perhelatan putaran final Piala Dunia selalu menghadirkan sosok-sosok maskot yang umumnya diambil dari hewan-hewan endemik di negara bersangkutan. Tercatat sudah ada 15 hewan dan sosok unik lain dijadikan maskot Piala Dunia.

Ide menampilkan maskot ini pun menjalar hingga ke ajang Olimpiade dan perhelatan olahraga lainnya di seluruh belahan dunia, bahkan hingga hari ini. Sejak 1990-an, maskot tak hanya sekadar pemanis pada perhelatan olahraga saja.

Tetapi ia sudah disesaki oleh berbagai makna kehidupan yang menyertainya. Entah maskot itu berupa hewansudah sangat langka dan hampir punah atau berupa tokoh rekaan mewakili semangat cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan.

Keberadaan maskot pun ikut menyemarakkan Pekan Paralimpik Nasional 2021 di Papua. Seperti juga Pekan Olahraga Nasional (PON) yang digelar beberapa pekan sebelumnya di Bumi Cenderawasih, Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI di Papua ikut mengangkat satwa endemik sebagai latar belakang maskot.

Jika pada PON Papua, burung cenderawasih (Paradisaeidae) dan kanguru pohon mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus) dijadikan maskot bernama Drawa dan Kangpho, maka untuk Peparnas yang akan berlangsung pada 2-15 November 2021, dipilih satwa burung kasuari.

Satwa bernama Latin Casuarius ini dipilih karena mencerminkan motivasi hidup pantang menyerah dalam situasi apa pun, bertanggung jawab, mandiri, dan kecepatan untuk merespons setiap peluang dan kesempatan.

Hewan ini memiliki sejumlah makna mendalam ketika menjalani kehidupannya di alam Papua. Kasuari jantan mampu mengambil fungsi si betina untuk mengerami telur dan membesarkan anaknya.

Mereka sanggup berkomunikasi dengan suara berfrekuensi rendah. Tidak seperti burung pada umumnya, kasuari dewasa mampu tumbuh dengan ukuran tubuh hingga 1,5 meter dan bobot mencapai 60 kilogram.

Seekor kasuari juga mempunyai keterbatasan. Ia tidak bisa terbang layaknya seekor burung karena ukuran sayap jauh lebih kecil dibandingkan tubuhnya. Hewan ini banyak mendiami kawasan hutan-hutan di pegunungan Papua.

Ia mengimbangi keterbatasannya dengan struktur sepasang kaki besar dan kokoh. Terdapat tiga kuku menyerupai cakar-cakar besar dan tajam di jari kaki. Kaki-kaki kokoh kasuari dipakai untuk berlari kencang dengan kecepatan hingga 50 kilometer per jam menembus rimbunnya hutan agar terhindar dari predator.

Kaki-kaki kekar kasuari juga menjadi senjata sangat ampuh untuk menendang para pengganggunya. Kaki besarnya itu kerap dipakai untuk melompati celah selebar 1,5 meter atau dijadikan alat kayuh paling andal ketika berenang menyusuri sungai atau laut. Terdapat semacam tanduk di kepala untuk melindunginya dari rintangan kayu pohon ketika berlari di rimbunan pohon.

Hampir semua suku di Papua, baik di pegunungan atau pesisir pantai memiliki nama tersendiri untuk kasuari. Begitu juga masyarakat Tobati, suku asli Kota Jayapura dan Suku Asei di Kabupaten Jayapura.
Orang Tobati menyebut kasuari dengan nama Htwar, sedangkan masyarakat Asei menamainya Augangge. Bulu-bulu kasuari yang lebat dan didominasi warna hitam acap dijadikan pelengkap aksesoris adat kedua suku.

Karena itu pihak Panitia Besar Peparnas mempunyai cara unik untuk mengangkat kasuari sebagai maskot. Tidak hanya satu, melainkan sepasang kasuari, yakni jantan dan betina dibuatkan maskotnya.

Maskot kasuari jantan dinamai Hara dan Wara untuk maskot betina. Nama Hara dan Wara diambil dari gabungan kata panggilan kasuari di Suku Tobati dan Asei.

Keduanya digambarkan memakai seragam dengan motif angka 16 mencerminkan pelaksanaan Peparnas untuk ke-16 kali. Kemudian di bagian dada terkalung noken ukuran kecil. Noken merupakan tas tradisional Papua yang terbuat dari serat kayu dan telah menjadi warisan budaya dunia takbenda oleh UNESCO.

Tak hanya maskot, unsur-unsur budaya lokal seperti rumah adat honai dan alat musik pukul tifa ikut mewarnai simbol-simbol Peparnas 2021. “Sehati Mencapai Tujuan, Ciptakan Prestasi” menjadi tema sentral Peparnas Papua. Semoga kehadiran Hara dan Wara mampu menambah kemeriahan Peparnas pertama di provinsi paling timur dari Indonesia. Torang Bisa! (indonesia.go.id)

Hara-Wara Maskot Peparnas Papua
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.