Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal
  • Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan
  • Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Inovasi Penyerap Limbah Cair Batik

Inovasi Penyerap Limbah Cair Batik

PERISTIWA redaksi19/12/2023 - 11:00 WIB

Pencemaran lingkungan akibat limbah industri batik masih menjadi persoalan serius di Kota Pekalongan. Salah satu jenis limbah yang paling berbahaya adalah limbah cair batik. Jika tidak terkelola dengan baik, limbah yang berasal dari pewarna sintetis itu dapat berbahaya bagi biota air. Bahkan penelitian telah membuktikan bahwa limbah cair batik dapat menyebabkan penyakit kulit hingga kanker.

Berangkat dari isu tersebut, M Assadam Rizqi Saputra, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) bersama rekannya Nadin Adelia, mahasiswa Universitas Pekalongan mengusung sebuah inovasi bernama SCOBYSIS. Inovasi itu berhasil meraih juara 1 dalam Youth Competition Karisma Pekalongan yang diselenggarakan oleh Kemitraan dan Pemkot Pekalongan pada Sabtu (09/12) lalu di Hotel Howard Johnson, Pekalongan.

Sadam menjelaskan bahwa SCOBYSIS merupakan sistem yang memanfaatkan scoby kombucha untuk menyerap limbah cair batik. Scoby kombucha ini merupakan hasil fermentasi teh dan gula yang memiliki daya absorpsi cukup baik terhadap logam berat. Logam berat sendiri adalah salah satu kandungan berbahaya yang terdapat dalam limbah cair batik.

“Inovasi yang kami rancang ini memiliki harga yang lebih terjangkau dan mudah untuk diterapkan. Inovasi ini terinspirasi dari jurnal literatur dan penelitian yang meneliti potensi scoby kombucha sebagai adsorben logam berat pada cairan limbah batik,” ujar mahasiswa prodi Manajemen itu.

Sadam melanjutkan sistem SCOBYSIS akan mengolah limbah cair batik dengan cara menampungnya di bak yang berisi scoby kombucha untuk menjalani proses penyerapan. Setelahnya, sistem itu akan mengalirkan limbah cair batik ke dalam bak elektrolisis.

Proses elektrolisis ini merupakan proses kimia yang memanfaatkan tegangan listrik. Melalui proses elektrolisis ini, limbah cair batik akan terdegradasi dan senyawa kimia di dalamnya dapat terserap.

“Ketika inovasi ini berhasil, maka produsen batik tidak lagi khawatir soal limbah yang terbuang. Hal ini karena limbah yang sudah melalui sistem SCOBYSIS akan netral dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Dengan demikian, batik akan tetap mempertahankan eksistensinya di masa depan,” jelasnya.

Pada akhir, mahasiswa asal Pekalongan itu berharap inovasinya dapat diimplementasikan oleh para UMKM batik di Kota Pekalongan dan sekitarnya. Ia sangat percaya inovasi tersebut dapat mengurangi dampak pencemaran air sungai akibat proses produksi batik.

Ia juga tidak lupa berpesan kepada mahasiswa untuk terus berkolaborasi untuk menciptakan berbagai inovasi yang dapat menjawab persoalan yang ada saat ini. “Seorang pemenang tidak lahir dari laut yang tenang sehingga membutuhkan tim yang solid dan bisa saling melengkapi kekurangan tim,” tutupnya. (ita)

Unair
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Comments are closed.

Pemkot Surabaya Tegaskan Sumbangan HUT Ke-81 RI Sukarela Tanpa Patokan Nominal

21/07/2026 - 18:56 WIB

Normalisasi Ruang Sungai Kalianak Tahap III Dimulai, Pemkot Surabaya Tandai 182 Bangunan

21/07/2026 - 18:39 WIB

Brida Surabaya Kembangkan Game Mangrove Throne untuk Edukasi Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat di Kebun Raya Mangrove

21/07/2026 - 18:34 WIB

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.